Dapur umum korban banjir Manado kesulitan minyak tanah
Untuk mendapatkan minyak tanah mereka harus menempuh waktu sekitar satu hingga dua jam.
Banjir bandang yang menerjang Manado menyebabkan warga mengungsi di sekolah dan tempat ibadah. Salah satunya berada di Kelurahan Ternate Tanjung, Kecamatan Singkil, Manado. Mereka mengungsi di empat titik, dua gedung sekolah, masjid dan gereja.
Koordinator dapur umum di sana, Angky yang juga Pusdaops Tagana Sulawesi Utara mengatakan tidak ada masalah untuk logistik. Tapi kendala datang justru dari bahan untuk mengolah logistik, minyak tanah.
"Di sini masih menggunakan minyak tanah untuk memasak. Sedangkan untuk mendapatkannya sulit," ungkap Angky di dapur umum Kelurahan Ternate Tanjung, Kecamatan Singkil, Manado, Selasa (21/1).
Topik pilihan: Banjir Jakarta | Banjir Pantura
Untuk mendapatkan minyak tanah mereka harus menempuh waktu sekitar satu hingga dua jam. Pasalnya mereka harus mencarinya di kecamatan lain.
"Kalau ada nyari sampai Kecamatan Malalayang. Sekitar satu hingga dua jam untuk mencapainya," jelas Angky.
Dapur umum yang dibawahinya, setiap kali makan harus membuat makanan untuk 3.467 warga. Di mana dalam sehari mereka membutuhkan minyak tanah sekitar 65 hingga 70 liter.
"Harga perliternya bervariasi. Mulai dari Rp 13 ribu sampai Rp 15 ribu," ungkapnya.
Baca juga:
Krisis air bersih, korban banjir Manado mandi pakai air selokan
Anggota DPR minta pemerintah tetapkan status bencana nasional
Kisah polisi evakuasi bocah selama 7 jam saat banjir Manado
JK tunggu kedatangan Boediono di Manado
Banjir bandang itu menyapu nyawa yang ingin selamatkan galon air