LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Daerah resapan jadi lahan bisnis penyebab banjir Manado

Kurangnya daerah serapan air disebabkan penimbunan yang dilakukan para pengembang.

2014-01-18 16:02:32
Banjir Manado
Advertisement

Banjir bandang yang terjadi di Kota Manado Rabu lalu menurut pemerhati lingkungan Universitas Sam Ratulangi, DR Denny Karwur, disebabkan berbagai hal. Pertama, tersumbatnya energi air sungai yang datang dari hulu oleh derasnya energi air laut yang saat itu sedang pasang.

"Jadi energi itu sepertinya tersumbat di muara–muara sungai sehingga energi air yang datang dari hulu ke muara kemudian mencari daratan–daratan atau daerah–daerah penyebaran lain di dalam kota," terangnya, Sabtu (18/1) saat dihubungi merdeka.com via seluler.

Kondisi tersebut kemudian diperparah dengan hilangnya sejumlah situ atau daerah resapan air berbentuk lubang–lubang (hole) besar di sejumlah kawasan kota, seperti di kawasan Ringroad dan Pondol.

"Yang berada di belakang Holland Bakery. Dulunya saya pikir, wah ini situ karena berlubang tapi sudah ditimbun," ujar Karwur.

Ia pun kembali menyayangkan penimbunan–penimbunan yang dilakukan pihak pengembang dengan tidak memperhitungkan dampak yang bakal terjadi kemudian seperti perubahan kontur lahan.

"Kawasan–kawasan resapan air sebagai penyanggah lingkungan sudah mulai dibabat. Seperti di Ringroad sana kan? Hole yang bisa jadi semacam tampungan air, sekarang malah ditutup dan ditimbun untuk dijadikan kawasan bisnis. Padahal areal tersebut dapat menyerap banyak air," ucap dia.

Ke depan, dirinya meminta pemerintah daerah agar menyiapkan lokasi–lokasi situ untuk meminimalisir dampak banjir besar, terutama di kawasan Ringroad yang banyak mengalami perubahan bentang alam akibat tingginya pembangunan.

"Jadi air–air bisa ditampung di sana. Di daerah mana yang air dari hulu tidak bisa dibuang ke laut karena tertutup energi dari laut, maka dia akan mencari lokasi–lokasi penampungan air," jelas dia.

Disentil berkurangnya populasi hutan sebagai salah satu penyebab banjir, Karwur tak menampik. Hutan sebagai catchment area atau areal tangkapan air diakui telah banyak mengalami penggundulan sehingga fungsinya menjadi berkurang.

Hanya saja ia tak mau mencari kesalahan sebab yang terjadi merupakan fenomena alam. Namun sebagai manusia, akan lebih bijaksana ketika kita melakukan langkah–langkah antisipasi.

"Hutan bisa di reboisasi ulang," ujar salah satu Dosen Hukum Lingkungan ini.

Menurutnya, banjir yang merupakan siklus sepuluh tahunan ini tidak perlu memakan korban harta benda dan nyawa manusia jika pembangunan dilakukan sesuai aturan dengan memperhatikan kajian–kajian lingkungan seperti yang dipersyaratkan.(mdk/tyo)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.