LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Curhat Rasyid Rajasa yang selalu dibayangi korban tewas

Rasyid tetap ngotot ingin dibebas murni dari kasus tabrakan maut.

2013-03-15 08:26:00
Kecelakaan Anak Hatta
Advertisement

Sidang kasus kecelakaan maut di Tol Jagorawi dengan terdakwa Rasyid Rajasa sudah memasuki babak akhir. Kemarin, Kamis (14/5), putra bungsu Menko Perekonomian Hatta Rajasa itu membacakan nota pembelaannya (pledoi) atas tuntutan jaksa.

Sebelumnya jaksa menuntut Rasyid dengan hukuman yang sangat ringan. Yakni 8 bulan penjara dengan percobaan 12 bulan. Artinya, Rasyid tidak akan pernah dipenjara selama 8 bulan jika dalam 12 bulan tidak melakukan tindak pidana.

"Menjatuhkan pidana 8 bulan, percobaan 12 bulan. Denda 12 juta subsider 6 bulan kurungan," kata ketua Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tengku Rahman, di PN Jakarta Timur, Jakarta, Kamis (7/3).

Sebenarnya hukuman itu sungguh tak adil untuk membayar kelalaian Rasyid yang telah menghilangkan nyawa dua orang. Tapi semua itu seolah bisa dimaklumi dengan dalih keluarga korban telah sepakat berdamai dengan anak ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Meski sudah dituntut sangat ringan, saat membacakan nota pembelaannya kemarin, Rasyid tetap ngotot ingin dibebas murni dari kasus ini. Untuk meluluhkan hati hakim, segala macam keluh kesah dia curahkan di persidangan.

Padahal, meski berstatus terdakwa Rasyid tak pernah merasakan dinginnya hidup di balik jeruji besi. Dia malah menikmati kehidupan seperti biasa, disopiri, di kawal, main futsal bersama teman-temannya dan menemani ayahnya nonton wayang.

Berikut empat curahan hati Rasyid di hadapan hakim dan jaksa sebelum vonis pada Kamis (22/3) mendatang:

Minta dibebaskan dari segala tuntutan

Rasyid Amirullah Rajasa berharap majelis hakim membebaskannya dari segala hukum. Bahkan dia meyakinkan hakim dengan menyatakan siap mengabdi pada negara jika dibebaskan dalam perkara ini.

"Saya mohon dapat membebaskan dari tuntutan hukum. Pada akhirnya, saat saya kembali nanti mendapatkan untuk negara yang saya cintai," kata Rasyid.

Advertisement

Curhat pendidikannya kacau

Sebelum kecelakaan terjadi, Rasyid adalah mahasiswa aktif di salah satu universitas di London. Saat kecelakaan terjadi, justru Rasyid dalam masa berlibur.

Di hadapan hakim, masalah sekolah yang terganggu karena harus menjalani proses hukum kasus ini juga dia sampaikan.

"Saya masih jalani proses kuliah saya yang masuk tahun terakhir dan sebentar lagi selesai. Saat ini saya terancam tidak dapat menyelesaikanya di London. Izin akan habis, saya akan dikeluarkan. Mohon kepada yang mulia berkenan mempertimbangkan kuliah saya kurang dua semester lagi, mohon majelis hakim memberi putusan adil," ujar Rasyid.

Rasyid mengatakan, lulus dengan hasil terbaik adalah keinginannya untuk membahagiakan kedua orangtua. Namun setelah adanya kasus ini, Rasyid mengatakan, mimpi untuk membahagiakan orang tuanya terancam sirna karena menjalani proses hukum selama ini.

"Kalau saya dikeluarkan, berakhirlah harapan membanggakan keluarga saya. Saya ingin jadi putra Indonesia berbakti kepada negara," ucapnya coba luluhkan hati hakim.

Advertisement

Resah dibayang-bayangi korban

Kasus kecelakaan yang menewaskan dua orang itu, membuat Rasyid trauma berat. Saking stres-nya, Rasyid mengaku tidak bisa melupakan kejadian tersebut.

"Saya menderita trauma psikis mendalam. Bayang-bayang korban membekas terus, beratnya proses pemeriksaan di kepolisian dan pengadilan menguras energi," ujar Rasyid.

Untuk memulihkan tekanan jiwanya, Rasyid mengaku sedang menjalani terapi.

"Harus perawatan terapi psikis dan untuk memulihkan percaya diri," klaimnya.

Rasyid tak pernah menduga kelalaiannya telah membuat orang lain celaka. Baginya, ini merupakan cobaan terberat semasa hidupnya.

"Saya menyesalkan peristiwa ini. Namun Insya Allah bisa jadi pelajaran berharga. Saya yakin setiap pengalaman guru berharga, mohon pembelaan jadi masukan dan pertimbangkan memutus perkara," ucap Rasyid.

Kecelakaan bukan keinginanya tapi takdir Allah

Rasyid meminta proses hukumnya segera diberhentikan. Apalagi, dia dan keluarga besar Hatta Rajasa sudah berdamai dengan keluarga korban.

Baginya, peristiwa itu adalah musibah. Dia yakin insiden di malam tahun baru lalu semata-mata bukan karena kesalahannya, melainkan suratan takdir.

"Saya sekali lagi menyatakan penyesalan atas kecelakaan, sudah saya sampaikan kepada korban. Korban sudah memaafkan ikhlas dan ridho, kami sama-sama menyadari musibah ini kehendak dan takdir Allah," ucap Rasyid.

Sebagai warga negara yang baik Rasyid mengklaim tidak akan melarikan diri dari masalah ini. Mahasiswa di London ini siap mempertanggungjawabkan perbuatannya dan memberi santunan pada korban.

"Atas dasar kemanusiaan saya dan keluarga sudah beri santunan, pemakaman, wujud tanggung jawab saya. Anak yang ditinggalkan korban akan disekolahkan sampai selesai kuliah dan dapat pekerjaan di depannya," janji Rasyid.

(mdk/bal)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.