LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Curhat mantan anggota Gafatar selama di penampungan

Kebanyakan mereka tidak tahu harus bagaimana melanjutkan kehidupan.

2016-02-03 05:35:00
Gafatar
Advertisement

Sejumlah mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) masih berada di lokasi penampungan di beberapa daerah. Di sana mereka dibina dan diberi arahan sebelum dikembalikan ke keluarga.

Berdasarkan penelusuran merdeka.com, banyak warga mengeluh selama di karantina. Masalah yang muncul, mulai dari mempertanyakan kebenaran janji pemerintah hingga nasib mereka di kemudian hari.

Jika dihadapkan pada pilihan, tidak sedikit dari mereka ingin kembali ke Kalimantan Barat. Faktor utamanya karena di sana sudah tersedia lapangan kerja.

Berikut curhatan mantan anggota Gafatar selama di penampungan:

Belum dapat bantuan yang dijanjikan pemerintah

Mantan para anggota Gafatar ditemani oleh Koalisi Masyarakat Peduli Gafatar mendatangi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), guna meminta perlindungan.

Salah satu eks anggota Gafatar, Yudhistira Arif Rahman, menceritakan banyak hal yang telah dialami termasuk soal harta benda para anggota Gafatar yang hilang sudah sampai miliaran.

Dia mengatakan, anak-anak eks Gafatar mengalami masalah traumatik. Bahkan ada yang keguguran dan juga ada yang melahirkan di penampungan.

"Dan setelah keluar di penampungan kawan-kawan juga mengalami kebingungan. Artinya setelah keluar dari penampungan mereka mau ngapain? Kawan sudah tidak memiliki apa-apa," ujarnya.

Dia juga mengaku belum ada bantuan pemerintah terkait penanganan aks Gafatar. "Kemudian apa yang dijanjikan pemerintah misalnya mengenai dana pangan yang disediakan atau dana pembinaan sampai hari ini belum ada realisasinya," ujarnya.

"Kami menyuarakan supaya hak-hak kami dapat dihormati oleh negara Indonesia," tutupnya.

Advertisement

Banyak dibiarkan selama di penampungan

Mantan anggota Gafatar di Yogyakarta mengeluhkan aktivitas di penampungan Youth Center, Yogyakarta. Sebab selama di sana mereka tidak memiliki aktivitas lain selain makan dan tidur.

Adi, salah seorang mantan anggota Gafatar asal Sleman mengatakan selama ini kegiatan sangat minim. Mereka kebanyakan didiamkan saja dan tidak ada aktivitas yang banyak.

"Kegiatannya itu cuma sehari itu aja, sebelumnya cuma makan tidur, membuang waktu," katanya pada merdeka.com di Youth Center, Selasa (2/2).

Meski demikian dia hanya bisa menurut saja. Dia sendiri mengaku bosan apalagi mendengar kabar jika akan kembali ditampung lagi di Kabupaten Sleman.

"Saya dari Surabaya sudah ditampung, ke Yogya ditampung, di Sleman nanti juga ditampung. Katanya deradikalisasi, tapi nggak ada kegiatan. Padahal kita butuh trauma healing buat anak-anak karena mereka melihat kebakaran dan kekerasan di Kalimantan Barat," terangnya.

Adi pun saat ini belum memiliki rencana apa pun setelah nanti pulang ke rumahnya. Dia bingung karena dia sudah kehilangan pekerjaannya.

"Di Kalimantan saya bertani. Di sini gimana? Pemerintah yang memulangkan kami harus tanggung jawab," tegasnya.

Hari ini seluruh mantan anggota Gafatar dipulangkan ke Kabupaten Kota masing-masing. Sebanyak 116 orang ke kabupaten Sleman, Kota Yogya 67 orang, Gunungkidul 16 dan Bantul 49 orang.

"Nanti di masing masing kota dan kabupaten untuk penanganan lanjutan," ujar Kepala Dinas Sosial DIY, Untung Sukaryadi.

Advertisement

Nyaman hidup di Mempawah

Sekitar bulan Oktober 2015, Eko Susanto seorang mantan anggota Gafatar berangkat ke Mempawah, Kalimantan Barat. Berbekal Rp 7 juta dia berangkat meninggalkan Yogyakarta.

Di Mempawah, uang tersebut dikumpulkan bersama dengan uang mantan anggota lainnya untuk membeli bahan bangunan. Setelah itu mereka pun membangun rumah dengan gotong royong.

"Setelah rumah jadi, istri dan tiga anak saya baru menyusul," kata Eko pada merdeka.com, Jumat (29/1).

Dibandingkan dengan di Yogyakarta, Eko mengaku lebih nyaman hidup di Mempawah. Di Yogyakarta dia tinggal menumpang di rumah orang tuanya, sebab gajinya sebagai buruh bangunan tidak cukup untuk bisa membeli rumah di Yogyakarta.

"Di Yogyakarta saya tidak punya rumah. Di Mempawah kami bisa membangun rumah. Total rumah yang kami bangun ada 28 unit. Satu rumah ada empat kamar. Masing-masing kamar dipakai satu keluarga. Ukuran kamarnya 4x4 ada yang 5x5," ungkapnya.

Meski hidup sederhana, namun Eko dan keluarganya lebih bahagia. Di sana, mereka semua sudah seperti saudara. Mereka makan dari hasil tanaman yang mereka tanam bersama. Minum dari air bersih yang mereka kelola bersama.

"Makannya biasanya tempe atau telur dicampur tepung. Ada sayurnya juga. Semua makan menu yang sama. Sudah seperti keluarga di sana. Minum saja kami bikin pengelolaan air minum sendiri. Air sungai di sana kan keruh, ada anggota kami yang bisa membuat penyaringan air jadi layak konsumsi," tambahnya.

Dia pun sedih dan menangis ketika kampung kecil yang mereka bangun dibakar massa. Bahkan barang milik mereka dijarah.

"Saya pergi dari Mempawah cuma bawa satu tas isi pakaian anak-anak saya. Setelah di Boyolali kemarin baru dapat pakaian bekas buat saya ganti," tandasnya.

Bingung karena tak punya rumah lagi

Sebanyak 435 eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang selama ini menghuni Asrama Haji Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah, dipulangkan pada Jumat (29/1). Meski akan kembali ke kampung halamannya dan berkumpul dengan keluarga, namun tak semua eks Gafatar berbahagia.

Giyanto (38) misalnya, eks pengikut Gafatar asal Kabupaten Sleman, Yogyakarta tersebut mengaku bingung saat akan naik bus yang membawanya. Jika harus pulang ke kampung halamannya, dia tak tahu harus kemana.

"Saya sudah tidak memiliki tempat tinggal di Sleman. Pekerjaan juga tidak punya, saya bingung harus gimana," ujar Giyanto saat ditemui wartawan.

Dia mengatakan, kemungkinan satu hingga dua hari ke depan akan tinggal di rumah saudaranya. Dia juga bingung harus menghidupi istri dan ketiga anaknya. Satu harapan yang dia tunggu adalah menunggu adanya program transmigrasi yang dilakukan oleh pemerintah. Hal itu agar dia mendapatkan lahan pekerjaan.

"Saya berharap ada program transmigrasi bagi kami yang sudah tidak punya tempat tinggal. Mungkin ke Kalimantan" imbuhnya.

Kepala Dinas Sosial Provinsi DIY, Untung Sukaryadi mengemukakan, saat ini ratusan warganya akan dipulangkan dahulu ke Youth Center, Sleman. Sedangkan untuk masalah pekerjaan dia mengaku akan dipikirkan kemudian.

"Yang penting semuanya dipulangkan dulu. Setelah semuanya pulang. Soal pekerjaan nanti kita pikirkan," tutup Untung.

(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.