LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Cuaca Ekstrem di Bogor: 4 Tewas, 6 Orang Hilang

Cuaca ekstrem di wilayah Bogor, telah merenggut sedikitnya empat nyawa. Akibat tertimbun longsor maupun terseret air bah, dalam dua hari terakhir. Dari empat orang korban tewas, satu orang ditemukan tewas tertimbun longsor dan tiga lainnya terseret air bah. Selain itu, masih ada enam orang lagi yang belum ditemukan.

2022-10-13 13:11:50
Cuaca Ekstrem
Advertisement

Cuaca ekstrem di wilayah Bogor, telah merenggut sedikitnya empat nyawa. Akibat tertimbun longsor maupun terseret air bah, dalam dua hari terakhir. Dari empat orang korban tewas, satu orang ditemukan tewas tertimbun longsor dan tiga lainnya terseret air bah. Selain itu, masih ada enam orang lagi yang belum ditemukan keberadaannya.

Hingga berita ini ditulis, enam orang korban yang belum ditemukan tersebut yakni, seorang mahasiswi IPB yang hanyut terbawa banjir lintasan di Jalan Dadali, Kota Bogor, Selasa (11/10).

Kemudian satu orang pelajar SMP asal Depok tersapu air bah di kawasan wisata Curug Kembar, Puncak Cisarua, Kabupaten Bogor, Rabu (12/10).

Advertisement

Serta empat orang masih tertimbun longsor di Gang Barjo, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor yang kini dalam pencarian, Kamis (13/10).

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca ekstrem di Bogor masih akan terjadi hingga 15 Oktober 2022. Hal itu berdasarkan analisis kondisi dinamika atmosfer di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Jawa Barat.

Advertisement

Kepala Stasiun Klimatologos Jawa Barat, Indra Gustari menerangkan, kondisi atmosfer Indonesia cukup signifikan meningkatkan potensi cuaca ekstrem. Menurutnya, terdapat siklonik membentuk pola belokan angin, serta perlambatan kecepatan angin yang dapat meningkatkan aktivitas konvektif serta pertumbuhan awan hujan.

Di samping itu, terdapat fenomena gelombang atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO) berinteraksi dengan gelombang Rossby Ekuatorial dan gelombang Kelvin.

Secara tidak langsung, fenomena tersebut, akan meningkatkan pertumbuhan awan hujan di Indonesia, termasuk Jawa Barat beberapa hari ke depan.

"BMKG memprakirakan potensi curah hujan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat/petir dan angin kencang pada 9-15 Oktober 2022," jelas Indra.

Menteri Sosial Tri Rismaharini, memerintahkan pemerintah daerah dan Basarnas segera melakukan assesment, terhadap banyaknya peristiwa bencana alam yang terjadi di Bogor belakangan ini, sebagai upaya penyelamatan sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

Risma menyempatkan diri berkunjung melihat kondisi lokasi longsor di Gang Barjo, Kelurahan Bogor Tengah, Kota Bogor, Rabu (12/10) malam. Menurutnya, sebagian besar warga diharuskan mengungsi, karena labilnya kondisi tanah di sana.

"Nanti SAR assesment dulu. Jangan sampai kemudian korbannya tambah banyak. Diassesment karena memang masih labil kondisinya. Kita nggak tahu kondisinya semua seperti apa. Makanjya saya minta camat warga yang ada di bawah tarik semua ke tempat aman," kata Risma tegas.

Gang Barjo merupakan kawasan permukiman padat penduduk. "Memang riskan. Sudah kondisi dengan kontur tanah labil, beban juga terlalu berat. Karena sangat padat sekali, kemiringannya sangat tinggi (curam)," kata Risma.

Sementara Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim berharap assesmet yang dilakukan Basarnas, Tagana, BPBD, Damkar dan relawan dapat dilakukan dengan cepat. Pasalnya, sebagian besar lokasi bencana di Kota Bogor berada di kawasan padat penduduk yang sulit diakses alat berat.

Dedie juga berharap cuaca kembali membaik, untuk mempercepat proses evakuasi korban tertimbun longsor dan sebagainya. Jika cuaca ekstrem terus terjadi, Pemkot Bogor pun akan kewalahan. "Bayangkan, kemarin baru pukul 15.30 WIB sudah terjadi genangan air di mana-mana. Rasanya itu cukup berat ya kita hadapi," kata Dedie.

Dedi menyampaikan, sejak Juli 2022 terjadi lebih dari 500 kepala keluarga (KK) terdampak langsung cuaca ekstrem, di samping kerusakan infrastruktur baik sedang maupun berat.

(mdk/rnd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.