Covid-10 Melonjak, Menteri PPPA Minta PTM Terbatas Dipertimbangkan Kembali
Bintang mengatakan pemberlakuan PTM harus didasarkan kepada assesmen yang kuat dan terukur oleh pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat. Bintang menyebut sosialisasi PTM juga harus melibatkan para orang tua.
Kasus Covid-19 meningkat tajam saat rencana Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas sudah di depan mata. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga, menilai rencana itu perlu dipertimbangkan lagi demi keselamatan para murid.
"Kemen PPPA menilai agar dipertimbangkan secara cermat dengan memperhitungkan kondisi riil di lapangan," kata Bintang dikutip dari siaran persnya, Kamis (24/6).
Bintang menjelaskan, berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), proporsi kasus Covid-19 pada anak usia 0-18 tahun mencapai 12,5 persen. Artinya, 1 dari 8 kasus konfirmasi Covid-19 adalah anak-anak.
Bintang menekankan bahwa setiap keputusan satuan pendidikan melakukan PTM, harus menjamin kesehatan dan keselamatan anak. Mulai dari, sebelum ke sekolah, saat di sekolah dan setelah pulang sekolah.
Selain itu, dia mengatakan pemberlakuan PTM harus didasarkan kepada assesmen yang kuat dan terukur oleh pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat. Bintang menyebut sosialisasi PTM juga harus melibatkan para orang tua.
"Sosialisasi PTM secara luas, matang, dan memberikan kewenangan yang kuat kepada pemerintah daerah, satuan pendidikan, keluarga dan orangtua/wali untuk merumuskan keikutsertaan anak didik dalam proses tersebut," jelasnya.
Menurut dia, sosialisasi tersebut perlu diikuti monitoring dan evaluasi secara berjenjang dengan sistem pengawasan yang ketat. Kemudian, diikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) pencegahan dan penanggulangan yang melibatkan tenaga kesehatan.
"Selain itu, penyiapan mitigasi terhadap risiko-risiko yang mungkin terjadi saat perjalanan ke sekolah, di sekolah, perjalanan pulang, dan saat kembali ke keluarga," ujar Bintang.
Sebelumnya, pembelajaran tatap muka terbatas rencananya akan dilakukan Juli 2021. Skema pembalajaran tatap muka terbatas ini tidak sama dengan sekolah tatap muka biasa.
Nantinya, satu kelas hanya diisi 25 persen peserta didik dan berlangsung dua kali dalam seminggu. Selain itu, protokol kesehatan yang ketat menjadi prioritas penerapan sekolah tatap muka terbatas agar tidak terjadi kluster Covid-19.
Reporter: Lizsa Egeham
Sumber: Liputan6.com