Cerita tragis bocah kelas 1 SD dikeroyok kakak kelas hingga buta
Akibat dihajar, mata kanan Dayan kini mengalami kebutaan. Bahkan, mata kanan Dayan bengkak hingga mau copot.
Cerita senior menghajar junior di sekolah memang tidak pernah habisnya. Senior kerap merasa paling hebat hingga mengintervensi juniornya. Bocah kelas 1 SD itu dikeroyok dua kakak kelasnya masing-masing kelas 4 dan 5. Dayan mengalami kebutaan pada mata sebelah kanan. Menurut penuturan paman korban Yasir Sudarmanto, pemukulan itu terjadi dua bulan yang lalu di Padang Makmur 02, Katingan, Kalimantan Tengah. Yasir menceritakan awalnya korban hanya mengalami pendarahan di bagian hidung dan bengkak-bengkak. Lalu sempat dilarikan ke puskesmas terdekat untuk diperiksa. Menurut penuturan paman korban Yasir Sudarmanto, pemukulan itu terjadi dua bulan yang lalu di Padang Makmur 02, Katingan, Kalimantan Tengah. Yasir mengatakan, saat itu Dayan mulai menuturkan kepada orangtuanya bila dua bulan yang lalu dirinya dikeroyok dua kakak kelasnya. Keluarga Dayan Ahmadi, bocah kelas 1 SD di Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah yang dikeroyok dua kakak kelasnya hingga buta, mengaku kecewa terhadap pihak sekolah. Paman korban, Yasir, merasa kesal lantaran pihak sekolah belum bertindak apa-apa soal kasus kekerasan di lingkungan sekolah itu. Yasir Sudarmanto, paman Dayan Ahmadi, bocah yang dikeroyok dua kakak kelasnya hingga buta mengatakan, pihak keluarga telah melaporkan kasus kekerasan yang dialami Dayan kepada polisi.
Dayan Ahmadi (7 tahun) siswa SD Padang Makmur 02, Desa Padang Utama, Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, dibully oleh kakak kelasnya. Dayan tak berdaya ketika dirinya dihajar habis-habisan oleh kakak kelasnya.
Akibat dihajar, mata kanan Dayan kini mengalami kebutaan. Bahkan, mata kanan Dayan bengkak hingga mau copot.
Kini Dayan masih dirawat di ruang ICU RS Tarakan Jakarta Pusat. Rencananya, Dayan segera dirujuk ke RSCM untuk melakukan operasi mata.
Berikut cerita tragis yang dialami Dayan:Dikeroyok dua kakak kelas
"Dayan Ahmadi bercerita kalau sakitnya itu karena dipukul oleh dua kakak kelasnya kelas 4 dan kelas 5. Kesaksian dari kawannya yang melihat katanya yang satu memegang tangannya yang satu memukuli wajahnya," kata paman korban Yasir Sudarmanto kepada merdeka.com di RS Tarakan Jakarta Pusat, Senin (17/11).
Menurut Yasir, korban saat ini sedang dirawat di ruang ICU RS Tarakan. Korban hanya dirawat untuk pemulihan awal kemudian akan dirujuk ke RSCM Cipto Mangunkusumo untuk dilakukan operasi mata.
"Sekarang langsung ke ruang operasi. Penanganan sementara tidak dioperasi di sini tapi di RSCM. Di sini hanya diurusi pemulihannya karena di sini peralatannya kurang. Hari ini masih nginap di sini. Baru besok atau lusa dirujuk ke RSCM," ujar Yasir.Usai dihajar, mata bengkak dan pendarahan
"Kira-kira dua bulan yang lalu. Dayan Ahmadi diantar wali kelasnya ke ibunya. Saat itu ibunya sedang mengantar adiknya yang masih TK. Karena Dayan keluar darah dari hidung oleh keluarga kemudian dibawa ke puskesmas dan minum obat. Setelah dua hari kemudian barulah tampak bengkak-bengkak di muka Dayan," kata Yasir kepada merdeka.com di RS Tarakan Jakarta Pusat, Senin (17/11).
Lebih jauh Yasir menceritakan setelah muka Dayan terlihat membengkak, pihak keluarga langsung membawa Dayan ke dokter di kabupaten. Dari situ tampak mata Dayan sebelah kanan terlihat semakin membengkak, bahkan hampir keluar bola matanya.
"Kemudian dari pihak puskesmas disarankan dibawa ke kota. Kemudian dibawa ke Sampit tapi bukan di rumah sakit, hanya di dokter saja dengan menginap dan diminta 3 hari menunggu perkembangan. Namun perkembangannya tidak tampak kemudian Dayan di bawa bulang semakin lama makin bengkak sampai mata yang awalnya hanya menonjol, hampir keluar yang kanan," paparnya.Baru ngaku dikeroyok setelah mata buta
"Baru Dayan bercerita kalau sakitnya itu karena dipukul oleh dua kakak kelasnya," imbuh Yasir.
Hingga kini Dayan masih dirawat di ruang ICU RS Tarakan Jakarta Pusat. Menurut Yasir, Dayan akan dirujuk ke RSCM Cipto Mangunkusumo untuk langsung melakukan operasi mata.Sekolah tak bertindak
Yasir mengaku akan membawa kasus yang menimpa keponakannya itu ke ranah hukum. Dirinya sudah melaporkan kasus penganiayaan Dayan kepada kepolisian.
"Biar ada efek jera kepada sekolahan, ini kan terjadi di sekolahan. Bahkan hingga saat ini pihak sekolahan belum melakukan tindakan apa-apa," kata Yasir kepada merdeka.com di RS Tarakan Jakarta Pusat, Senin (17/11).Dua kali lapor polisi dicuekin
Yasir menuturkan, pihak keluarga awalnya melaporkan ke Polsek Kasongan, Kalteng, ketika keluarga membawa Dayan berobat ke dokter lantaran puskesmas di kampung Dayan mengaku tidak mampu mengatasi. Menurut Yasir Polsek Kasongan menolak karena bukan wilayah otoritasnya.
"Pamannya lantas ke Kepolisian di Kasongan. Hanya saja polisi Kasongan menyatakan tidak bisa menerima dikarenakan bukan wilayahnya. Harusnya dilaporkan ke Kepolisian yang terdekat dengan TKP," tutur Yasir kepada merdeka.com di RS Tarakan Jakarta Pusat, Senin (17/11).
Yasir menambahkan, pihak keluarga Dayan kemudian melaporkan kembali ke Polsek Pagatan, Kalteng, namun kembali ditolak lantaran waktu kejadiannya sudah lama.
"Kemudian melapor ke Kepolisian Pagatan, Kepolisan terdekat dengan TKP hanya tetap belum bisa diterima, karena kejadiannya sudah terlalu lama. Kedua belum adanya visum, ya sudah akhirnya berangkat ke Jakarta," kata Yasir.