LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Cerita sedih seorang ibu cari kabar anaknya ditangkap di China

Penangkapan terhadap JM (35) dilakukan bea cukai bandara Guangzhou, China, atas tuduhan kepemilikan 2,2 kg sabu membuat keluarga terpukul. Dengan keterbatasan biaya, pihak keluarga dimintai pengacara asal China uang sebesar Rp 150 juta untuk mendampingi kasus kasus anaknya.

2017-03-30 17:39:25
Kasus Narkoba
Advertisement

Penangkapan terhadap JM (35) dilakukan bea cukai bandara Guangzhou, China, atas tuduhan kepemilikan 2,2 kg sabu membuat keluarga terpukul. Dengan keterbatasan biaya, pihak keluarga dimintai pengacara asal China uang sebesar Rp 150 juta untuk mendampingi kasus kasus anaknya.

Ibu JM, Ratni (53) menjelaskan, permintaan tersebut disampaikan Kementerian Luar Negeri RI satu bulan setelah mendapat kabar penangkapan. Lantaran tak memiliki uang, tawaran itu tidak disanggupi sehingga kasusnya hingga kini tidak diketahui.

"Kami orang miskin, suami saya cuma tukang bangunan. Mana mungkin dapat duit sebanyak itu, seperti yang diminta pengacara China itu," ungkap Ratni di Palembang, Kamis (30/3).

Tak hanya itu, Ratni juga hampir menjadi korban pemerasan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dengan iming-iming mampu mengangkat kasus ini ke media. Syaratnya, Ratni harus mengeluarkan uang Rp 500 ribu dengan alasan untuk membayar wartawan. "Mau makan saja susah, bagaimana mau kasih duit. Kami mikir cuma diperalat saja, kami cueki saja," ujarnya.

Selama empat tahun terakhir, Ratni dan keluarga terus meminta bantuan untuk mencari kejelasan nasib anaknya. Mereka pernah mendatangi kantor Gubernur Sumsel namun tidak ada jawaban.

Ratni juga menemui Badan Nasional Narkotika (BNN) Sumsel, lagi-lagi tidak direspon, justru mereka diusir. Tak hilang akal, keluarganya juga mendatangi dua kantor media elektronik di Palembang dengan harapan kasus ini dapat diberitakan. Namun, penolakan diterima dengan alasan bukan kasus orang hilang.

"Tadinya kami mau gadaikan rumah buat ke Jakarta, tapi bingung mau bayarnya bagaimana. Kami putus asa, mau ke mana lagi meminta bantuan. Mau dengar suara anak saya sudah cukup, biar tahu kalau dia masih hidup," terangnya.

Sementara itu, saudara JM, Sandi (33) mengaku dirinya pernah mengirim pesan melalui akun Facebook Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Namun, tidak pernah ditanggapi. "Sudah sering dikirim, tidak pernah sama sekali direspon. Kebetulan adik saya punya Instagram dibuat di sana, Alhamdulillah wartawan datang, mudah-mudahan kasus ini bisa terang kembali," pungkasnya.

Diketahui, JM (35), ditangkap Kantor Biro Anti Penyelundupan Bea Cukai Kota Guangzhou, China, 1 Juni 2014 lantaran tepergok membawa sabu jenis ICE seberat 2,2 kg. Empat tahun berlalu, status hukum dan nasib JM hingga kini misterius.(mdk/ang)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.