Cerita Mengharukan dari Sinjai Makassar, Semangat Jemaah Haji Difabel Berangkat ke Tanah Suci
JCH difabel, Saifuddin HM Abd Muin Saideng mengaku bersyukur bisa berangkat haji bersama empat orang keluarganya. Ia mengaku mendaftar haji sejak tahun 2014.
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Makassar menerima 393 jemaah calon haji (JCH) asal Kabupaten Bone, Sinjai, dan Kota Makassar. Dari 393 orang, terdapat dua orang JCH menyandang difabel tuna daksa dan tuna netra.
JCH difabel, Saifuddin HM Abd Muin Saideng mengaku bersyukur bisa berangkat haji bersama empat orang keluarganya. Ia mengaku mendaftar haji sejak tahun 2014.
"Tahun 2014 sudah mendaftar dan alhamdulillah tahun ini bisa berangkat bersama empat orang (keluarga)," ujarnya kepada wartawan di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang Makassar, Minggu (3/5).
Saifuddin yang kesehariannya adalah imam masjid ini mengaku kondisi difabel tak menyurutkan semangatnya memenuhi menjalankan Rukun Islam kelima.
"Alhamdulillah masih kuat jalan," kata dia.
Saifuddin menceritakan awal kehilangan pandangan pada matanya. Ia menyebut matanya kehilangan cahaya sejak masuk sekolah menengah pertama (SMP). "Tahun 85 (1985), mata mulai kabur. Waktu itu berobat ke dokter di Makassar untuk memeriksakan matanya," tuturnya.
Namun, saat lulus sekolah dasar (SD), dirinya mengalami sakit. Saat sakit, Saifuddin mengaku matanya seperti tertusuk jarum.
"Mata bengkak dan sakit seperti tertusuk jarum. Akhirnya tidak bisa melihat," kata dia.
Ia pun berharap bisa berdoa di depan Kakbah untuk kesehatan matanya. "Berharap mata (sembuh), karena sudah ikhtiar berobat," sebutnya.
Perasaan yang sama juga dirasakan JCH difabel Tuna Daksa, Kasma Binti Muskin. Ia akhirnya bisa berangkat menunaikan ibadah haji setelah 2 tahun tertunda akibat penyakit diabetes.
"Daftar (haji) tahun 2011. Harusnya tiga tahun lalu berangkat (haji)," tuturnya.
Kasma mengaku tiga tahun lalu batal berangkat haji karena penyakit diabetes. Setahun berselang, penyakit diabetes yang diidapnya semakin parah, hingga akhirnya kaki kanannya harus diamputasi.
"Tahun 2024 harusnya berangkat haji bersama suami. Tapi karena sakit diabetes, saya batal berangkat, tapi suami tetap berangkat," kata Kasma.
Dua tahun menjalani pemulihan pasca amputasi diabetes, akhirnya Kasma bisa berangkat menunaikan ibadah haji. Untuk kali ini, Kasma berangkat haji ditemani anaknya Nurlinda (24).
"Alhamdulillah, bahagia tahun ini bisa naik (berangkat haji). Sekarang berangkat bersama anak sebagai pendamping," tuturnya.
Meski harus menggunakan kursi roda, Kasma tetap semangat menjalani proses ibadah haji di Asrama Haji Sudiang Makassar. Ia mengaku sudah menyiapkan insulin untuk mengantisipasi penyakit diabetes yang diidapnya kambuh.
"Setiap malam harus disuntik insulin," ucapnya.
Kuota 44 Orang
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Sinjai Kamriati Anies mengatakan untuk tahun ini, Kabupaten Sinjai mendapatkan kuota 44 orang JCH. Dari jumlah tersebut 2 diantaranya merupakan jemaah difabel.
"Alhamdulillah, pada tahun ini membawa jemaah sebanyak 44 orang. Jadi, kebetulan di tempat kami, Kabupaten Sinjai, ada dua yang difabel," sebutnya.
"Satu yang tuna netra, dan satu yang amputasi kaki (tuna daksa)," imbuhnya.
Kloter 17
Meski demikian, Kamriati menjamin dua JCH tersebut secara kesehatan tidak bermasalah. Meski demikian, Kamriati menitipkan dua JCH tersebut kepada ketua rombongan di kloter 17 Embarkasi Makassar.
"Cuma kami titipkan untuk nanti di sana pada saat dia Wukuf, Sa'i, dan pada saat dia menjalankan ibadah umrah untuk ada pendampingan alat seperti kursi roda," ucapnya.