Cerita mengerikan keluarga Vivi usai selamat saat gempa Pidie
Wanita hamil itu tertatih-tatih berjalan menggunakan Walking Stick (alat bantu berjalan). Vivi Andriani (32), perempuan 3 anak ini salah satu dari ratusan korban gempa 7 Desember 2016 lalu menguncang Pidie Jaya 6,4 SR menjelang subuh. Saat kejadian, dia bersama ketiga anak dan suaminya sudah hendak bangun subuh.
Wanita hamil itu tertatih-tatih berjalan menggunakan Walking Stick (alat bantu berjalan). Kening perempuan kulit sawo matang itu berkerut menahan rasa sakit. Menggunakan jilbab coklat dan sarung, dia tetap tersenyum ramah.
Tiga relawan Palang Merah Indonesia (PMI) memandu wanita itu berjalan menuju ruang tamu. Ditemani kedua anaknya yang masih kecil, dia terus berusaha menggerakkan langkah, sembari meminta untuk masuk dalam rumah.
Wanita itu, Vivi Andriani (32), perempuan 3 anak ini salah satu dari ratusan korban gempa 7 Desember 2016 lalu menguncang Pidie Jaya 6,4 SR menjelang subuh. Saat kejadian, dia bersama ketiga anak dan suaminya sudah hendak bangun ingin menunaikan salat subuh.
Rumah keluarga kecil ini rata dengan tanah di Gampong Muko Kuthang, Kecamatan Ulee Glee, Kabupaten Pidie Jaya. Kecamatan ini, merupakan wilayah yang terparah dampak gempa yang menghancurkan ribuan bangunan di Pidie Jaya penghujung tahun lalu.
Tetapi, keluarga ini masih beruntung, masih bisa bersama, makan bersama dan kembali bisa bercanda bersama. Karena bisa selamat dari musibah terbesar di Aceh tahun lalu.
Meskipun, dia harus menderita patah tulang punggung karena tertindih tembok setelah gempa terjadi. Ia bahkan sempat terjepit selama 30 menit. Padahal dirinya saat itu sedang hamil 6 bulan. Ajaibnya, kandungannya selamat masih sehat hingga sekarang.
"Tembok tertindih di punggung saya, karena saat itu saya masih tidur di ranjang," kata Vivi Andriani.
Setelah terjadi hentakan, rumah kemudian rubuh rata dengan tanah. Bersamaan dengan itu, dia bersama anak kedua dan ketiga Nabil Akif (6) dan Azam Fairus (3) tertimbun reruntuhan bangunan.
Beruntung, Nabil dan Azam tertimbun namun tidak membuat dia terjepit, karena ada ruangan seukuran badannya. Sehingga kedua anak tersebut tak mengalami luka serius.
Keburuntungan masih berpihak kepada keluarga ini. Suami Vivi, Sulamuddin (36) tidak terjepit saat rumah menghantam tanah. Bak dalam film Hollywood, dia bangun dan langsung menolong ketiga buah hati dan istrinya yang terjepit.
"Seandainya saya terjepit, secara adat kami tak ada lagi," kata Salamuddin saat mendampingi istrinya.
Raut wajahnya tiba-tiba berkerut, nada suara kian menurun saat mengingat detik-detik musibah itu. Ia tak sanggup membayangkan, anak pertamanya Zaada Ilma (10) nyaris saja tiada. Kepala Zaada terjepit dengan tembok hingga terluka.
Setelah semua anggota keluarganya dikeluarkan dari bawah reruntuhan. Mereka pun langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Tgk Chit Tiro, Pidie untuk mendapatkan perawatan. "Kami pasien pertama tiba di rumah sakit subuh itu," jelasnya.
Zaada sempat tak sadarkan diri sejak pertama kali terjepit hingga 5 hari dirawat di Rumah Sakit Umun Zainoel Abidin (RSUZA). Keluarga ini harus dirujuk ke rumah sakit induk di Banda Aceh.
Sedangkan Vivi, tulang punggungnya patah tak bisa dioperasi, karena dia sedang hamil 6 bulan. Hanya diurut dan sampai sekarang Vivi harus ada alat bantu bila hendak berjalan.
"Zaada sudah sehat, enggak ada di rumah sudah pergi mengaji baru saja,” ungkapnya.
Kini, Salamuddin tinggal di rumah mertua bersama anak-anaknya. Rumahnya di Gampong Muko Kuthang sudah rata dengan tanah. Puing-puing bangunan sudah dibersihkan, namun belum ada tanda-tanda pembangunan kembali rumah seperti dijanjikan oleh Presiden Jokowi.
Keseharian, Salamuddin tetap sekarang tetap menjalani profesinya sebagai guru di SMA Negeri 2 Kecamatan Ingin Jaya. Dia bersyukur, masih diberikan umur panjang dan bisa bertemu dengan seluruh keluarganya paska gempa mengguncang Pidie Jaya.
Baca juga:
Tangis pilu Plt wali kota Banda Aceh lihat foto ibu korban gempa
Didekap bunda di ambang maut
Celah ajaib di Kuta Pangwa
Tinggal aku dan Aura