Cerita kelam di balik pemberlakuan 3 in 1 di Jakarta
Paling tidak jasa joki esek-esek itu dihargai Rp 500 ribu sekali kencan.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yambise sedih melihat banyak anak-anak dieksploitasi orangtuanya menjadi joki 3 in 1. Anak-anak itu kini berada di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Cipayung, Jakarta Timur, karena terjaring razia.
Berangkat dari temuan itu, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, berniat menghapus sistem 3 in 1 dari jalanan ibu kota. Apalagi, diakui salah satu anak dirinya memang sering dianiaya orangtua bila tak mau ikut menjadi joki.
"Sebenarnya enggak perlu ada three in one juga. Kalau orang pada bawa-bawa bayi begitu, dikasih obat bayinya biar enggak mengganggu yang membawa mobil. Ini kan enggak benar kalau begitu," kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Senin (28/3).
Saat ini, Ahok mengaku tengah mengkaji apakah penghapusan sistem ini memiliki dampak yang cukup signifikan, terutama soal kepadatan kendaraan. Ahok menilai, 3 in 1 selama ini kurang efektif.
"Sekarang hampir enggak ada 3 in 1 kok, kamu lihat aja terobos-terobos, emang siapa yang periksa itu kaca gelap begitu, enggak ada efek juga. Makanya kita mesti coba kalau tanpa 3 in 1 efeknya apa, sama enggak padatnya," tegas Ahok.
Cerita kelam lain dari pemberlakukan 3 in 1 adalah soal esek-esek. Nin, gadis 20 berusia tahun ini menjalani profesi sebagai penumpang bayaran. Di sela profesinya sebagai joki, Nin tak segan memberi pelayanan lebih kepada para pengemudi nakal.
"Kadang ada yang suka iseng nawarin untuk tidur bareng," kata Nin saat berbincang dengan merdeka.com di sekitaran Bundaran Senayan. Nin mengaku tidak langsung melacurkan diri jika pengemudinya tak merespons.
Saban hari Nin keluar dengan pakaian modis untuk memikat para pengemudi. Sekali menemani pengemudi sampai tujuan bebas lokasi three in one, Nin dibayar mulai dari Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu.
Sedangkan untuk tarif pelayanan ranjang, Nin biasanya berunding dengan pengemudi. Paling tidak jasa kehangatan dia berikan dihargai Rp 500 ribu.
Bahkan kadang dia mendapat bayaran lebih. Pernah dia dibayar Rp 1 juta untuk menemani pengemudi paruh baya di sebuah hotel kelas melati di bilangan Blok M, Jakarta Selatan. "Kalau tarif tergantung nego," ungkapnya.
(mdk/did)