Cerita eks teroris bangun pesantren dari difitnah sampai dicurigai
"Mungkin karena saya tampil di TV sebagai teroris, maka mereka (warga) mencurigai pesantren ini," kata Ghazali.
Upaya Khairul Ghazali alias Abu Yasin (50) mendirikan pesantren yang fokus pada deradikalisasi tidak berlangsung mulus. Sempat ada tentangan dari warga sekitar.
Pertengahan Agustus 2015, Ghazali mulai membangun pesantren yang dibayangkannya akan dapat membantu anak-anak teroris. Dia mendirikan bangunan kecil di atas lahan 7.000 meter persegi di Dusun 4 Desa Mencirim, Kutalimbaru, Deli Serdang, Sumut. "Modalnya Rp 20 juta ketika itu," katanya, Sabtu (3/9).
Di awal pendirian Pesantren Darusy Syifaa, penentangan muncul. Ada fitnah. "Mungkin karena saya tampil di TV sebagai teroris, maka mereka (warga) mencurigai pesantren ini menyebarkan paham radikal," kata Ghazali.
Penentangan itu langsung dalam bentuk aksi fisik. Spanduk yang dipasang Ghazali di depan lahan pesantren diturunkan warga dan diinjak-injak. Bukan sekali, aksi itu sekurangnya terjadi dua kali.
Penentangan baru terhenti setelah para petinggi aparat keamanan turun ke lokasi. Mereka menyosialisasikan tujuan pendirian pesantren itu kepada warga. "Sejak itu semua lancar," sebut Ghazali.
Salah seorang warga, M Iqbal, mengaku awalnya mereka memang khawatir pesantren itu menyebarkan paham radikal. "Itu awal-awal dulu. Tapi belakangan, setelah ada sosialisasi dari aparat keamanan, apalagi seluruh kepala dusun dan warga diundang pada peresmian gedung yang dilakukan T Erry Nuradi beberapa waktu lalu, tidak ada masalah lagi. Apalagi pesantrennya tidak tertutup," katanya.
Bahkan warga berharap pesantren itu dapat menampung anak-anak setempat. Beberapa di antaranya tertarik dapat menikmati pendidikan gratis di sana.
Benih yang ditanam Ghazali pun lama-lama mulai bertunas. Bantuan datang ke pesantren untuk anak teroris yang didirikannya.
Awalnya, Ghazali membangun Pesantren Darusy Syifaa dengan dana seadanya. Dia menyisihkan royalti buku yang ditulisnya, termasuk semasa dia penjara dalam kasus terorisme. Sanak keluarga juga turut membantunya.
Belum setahun berdiri sejak Agustus 2015, Pesantren Darusy Syifaa di Dusun 4 Desa Sei Mencirim, Kutalimbaru, Deli Serdang sudah didatangi pejabat. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Saut Usman Nasution meletakkan batu pertama pembangunan pesantren itu pada 16 Januari 2016. Acara itu juga dihadiri Plt Gubernur Sumut T Erry Nuradi, dan Kapolresta Medan Kombes Mardiaz Kusin Dwihananto.
Pada 11 Juni 2016, giliran Gubernur Sumut T Erry Nuradi yang meresmikan Pesantren Darusy Syifaa. Prasastinya masih menempel di dinding bangunan permanen di kompleks seluas 7.000 meter persegi itu.
Bukan hanya meresmikan, Erry juga menjanjikan bantuan lahan seluas 30 hektare dari eks-HGU PTPN 2 untuk perluasan pesantren yang fokus pada deradikalisasi dan rehabilitasi teroris ini. Lahannya terletak tepat di depan kompleks saat ini.
Yang sudah nyata bantuan datang dari BNPT. Mereka membangunkan masjid untuk pesantren ini di atas lahan seluas 6.000 meter dari bagian 30 hektare itu. Areal untuk pembangunan masjid sudah dibersihkan dan dipasangi patok.
"Mereka (BNPT) yang membiayai semua. Kita tinggal kasih gambar dan tunjuk panglong (toko besi). Mereka yang mengerjakan," kata Ghazali.
Peletakan batu pertama masjid itu rencananya akan dilakukan langsung Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius pada 7 September 2016 mendatang. Proyek pembangunan masjid diagendakan selesai dalam waktu dua bulan. "Kalau sudah selesai rencananya akan diresmikan Presiden Jokowi," pungkas Ghazali.(mdk/eko)