LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Cerita Eks Pentolan NII Rekrut Mahasiswa Cuma Butuh 20 Menit

Pendiri kelompok radikalisme Negara Islam Indonesia yang sempat tenar dan mengkhawatirkan Ken Setiawan, mengingatkan agar para mahasiswa di Riau untuk mewaspadai perekrutan paham radikal. Ken menyebutkan, seseorang yang masuk ke paham radikal hingga melakukan aksi terorisme hingga merugikan keluarga sendiri.

2019-01-25 00:31:00
Radikalisme
Advertisement

Pendiri kelompok radikalisme Negara Islam Indonesia yang sempat tenar dan mengkhawatirkan Ken Setiawan, mengingatkan agar para mahasiswa di Riau untuk mewaspadai perekrutan paham radikal. Ken menyebutkan, seseorang yang masuk ke paham radikal hingga melakukan aksi terorisme hingga merugikan keluarga sendiri.

‎"Dulu, saya hanya butuh 20 menit maksimal 2 jam untuk merekrut anggota NII yang baru. Saya memengaruhi target, terutama mahasiswa untuk menerima paham radikal NII," ujar Ken menceritakan pengalamannya menyebarkan paham radikal.

Itu disampaikan Ken dalam Diskusi Indonesia Damai Tanpa Hoax, Intoleransi, dan Ekstremisme yang diselenggarakan Mabes Polri, Kamis (24/1).

Advertisement

Ken mengaku pernah mendapat penghargaan perekrut terbaik saat masih menjadi anggota NII sekitar tahun 2000 silam. Di hadapan seratusan mahasiswa di Kota Pekanbaru, Ken menceritakan pengalamannya menjadi salah satu perekrut aktif NII pada tahun 2000 hingga 2003 itu mengatakan mahasiswa dan kalangan pelajar merupakan target utama kelompok radikal.

Selain Ken, sosialisasi pencegahan paham radikalisme itu juga diikuti Ketua Forum Koordinasi Penanggulangan Teroris (FKPT) Riau, Saifunnajar dan Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau, Zulhusni Domo menjadi pemateri kegiatan tersebut.

Menurut Ken, pergerakan NII pada dua dekade lalu menyasar kalangan muda, terutama mahasiswa yang jauh dari pengawasan orang tua. Bahkan jika mahasiswa yang memiliki pengetahuan agama ‎hanya sekedarnya saja, Ken menyebutkan itu sasaran target paling empuk untuk dipengaruhi.

Advertisement

"‎Saya dulunya juga tukang 'cuci otak', atau sebutan umum praktik perekrutan tersebut memanfaatkan kelemahan pemahaman mahasiswa tentang Islam serta sikap tidak kritis. Mahasiswa yang tidak kritis akan sangat mudah untuk dipengaruhi dan menelan mentah-mentah paham radikal," ucap Ken.

Seorang mahasiswa yang sudah terpengaruh paham radikal akan mudah untuk dikendalikan. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan mahasiswa dengan mudahnya membohongi orangtua. Itu dilakukan agar mendapatkan dana dari orangtua untuk memuluskan aksi radikal yang sedang dijalaninya.

Ken mencontohkan, ada seorang mahasiswa yang sudah terpengaruh akan meminta uang kuliah, padahal mereka sudah drop out.

"Ada juga mahasiswa yang meminta uang hingga Rp300 juta pada orang tua untuk mengganti alat laboratorium, padahal dia sudah DO. Ibunya sampai datang ke kampus untuk menanyakan perbuatan anaknya kok disuruh ganti hingga ratusan juta. Akhirnya si dosen menceritakan bahwa anak ibu itu sudah dikeluarkan dari kampus," kata Ken.

‎Ken mengatakan perekrutan kelompok radikal terus berubah dari masa ke masa. Berbeda pada awal tahun 2000 an, saat ini pergerakan kelompok radikal lebih fleksibel. Mereka menyamar agar diterima di tengah-tengah masyarakat.

"Kalau dulu saya merampok dan mencuri untuk dapat uang, tapi sekarang mereka yang menyebarkan paham radikal itu membuat yayasan‎ lalu memungut uang dengan berpura-pura untuk pembangunan. Mereka punya tanda pengenal yayasan, minta sumbangan. Ini yang merusak nama baik kelompok tertentu," kata Ken.

Jika sebelumnya dilakukan di kampus untuk merekrut anggota baru, kini mereka melakukannya di tempat kumpul anak-anak muda. Bahkan, mereka juga memanfaatkan alumni kampus sebagai jembatan perekrutan mahasiswa. Hal itu yang sebelumnya terjadi di Universitas Riau, saat Densus 88 menangkap tiga terduga teroris pada 2018 lalu.

"Bersama-sama kita harus mewaspadai. Peduli dengan lingkungan dan perbanyak kegiatan positif," ujar Ken.

Baca juga:
Wapres JK Belum Tahu Ada ASN Terpapar Radikalisme dan Pro Khilafah
Istana Tindaklanjut Laporan GP Ansor Soal Kelompok Radikal Buat NKRI Bersyariat
GP Ansor Lapor Jokowi Ada Kelompok Radikal Afiliasi dengan Kontestan Pemilu
'Tidak Ada Agama Ajarkan Saling Bermusuhan dan Menyakiti'
Budi Karya Sumadi Harap Masjid Terlepas dari Politik Pemecah Belah Umat
Warga Muslim Uighur Didiskriminasi Pemerintah China Demi Perangi Radikalisme

(mdk/bal)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.