Cerita dr Nalini redam emosi Lisa saat 17 kali operasi face off
Sejak 28 Maret 2006 hingga 27 Febuari 2013 lalu itu, Lisa menjalani 17 kali operasi.
Proses operasi wajah atau face off terhadap pasien RSUD dr Soetomo Surabaya, Jawa Timur, Siti Nur Jazilah alias Lisa asal Turen, Kab Malang, bukan pekerjaan mudah bagi tim dokter. Ada tim khusus di balik kesuksesan bedah wajah secara total terhadap perempuan kelahiran 17 Januari 1983 itu.
Siapa di balik sukses operasi face off Lisa? Salah satunya adalah dr Nalini Mukdi, dokter khusus yang ditugaskan untuk mendampingi mental Lisa yang saat itu dalam kondisi tidak stabil.
Sebab, proses operasi face off yang paling utama kepada Lisa adalah mengatasi masalah kejiwaannya yang tengah labil pasca-kekerasan yang diterima dari suaminya. Sementara tim dokter yang menangani rekontruksi wajah Lisa, hanya berusaha memperbaiki kondisi fisik saja.
Memang, selain menggandeng tim ahli dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjajaran Bandung serta tim dari Malang dan Surabaya, tim operasi face off yang diketuai Prof dr Sjaifuddin Noer SpBP-K, menunjuk dokter ahli kejiwaan itu untuk terus mendampingi Lisa selama proses operasi.
Sejak 28 Maret 2006 hingga 27 Febuari 2013 lalu itu, Lisa menjalani 17 kali operasi. Dan dalam kurun waktu tujuh tahun itu, korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oleh suaminya, Mulyono itu berada di ruang khusus di RSUD dr Soetomo.
Dan selama di ruang isolasi khusus itu, dr Nalini Mukdi selalu mendampingi dan men-support pasien rekontruksi wajah tersebut. "Ada hal-hal yang sangat sensitif dalam diri Lisa. Kondisinya sangat labil. Dia memiliki emosinya sangat labil," kata Nalini di sela pelepasan Lisa dari RSUD dr Soetomo, Rabu (5/2).
Sebagai Ketua Tim Psikiater Lisa, Nalini sangat berhati-hati sekali menangani pasien asal Malang tersebut. "Saya selalu memberi support kepada dia. Karena ada kekurangan dalam diri Lisa. emosinya benar-benar labil saat itu. Dan proses emosi tersebut belum selesai untuk sempurna, karena masih dalam proses," ungkap dia lagi.
Selama ini, lanjut dia, tim dokter terus membangkitkan semangat Lisa. "Namun, berada di luar atau hidup di tengah masyarakat tentu berbeda dengan di rumah sakit. Ada banyak kekurangan pada diri Lisa. Salah satu contoh, seperti yang saya katakan tadi, emosi Lisa masih sangat labil. Dan ini cukup wajar karena dia mengalami masalah yang cukup berat."
Kalau dulu, masih menurut dia, kita yang membantu. Tapi ketika sudah di luar, berkumpul kembali dengan masyarakat, Lisa yang harus berusaha sendiri.
Diakui Nalini, meski emosional Lisa tidak begitu bagus, perempuan berambut lurus itu memiliki kelebihan-kelebihan lain, yang perlu untuk terus dibangun. "Saya juga selalu menekankan soal kelebihan-kelebihan yang dimiliki Lisa. Bagaimanapun juga, dia harus mampu untuk mencintai dirinya sendiri," ungkapnya.
Selama proses operasi, masih menurut Nalini, tugas saya adalah terus mendukung dia. "Sekali lagi, dia punya kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Itu yang kami kuatkan selama ini, dan itu yang harus dikembangkan dalam diri Lisa."
"Dia adalah pekerja keras, itu adalah modalitas yang besar, kekurangan dia (akibat KDRT), saya tahu dan itu sudah selesai. Tugas saya mendorong dia. Dia harus mencintai dirinya sendiri dan berusaha juga dicintai orang lain," tegas dia.
Selanjutnya, pasca-menjalani 17 kali operasi wajah secara total, tim dokter melihat Lisa sudah cukup kuat untuk berinteraksi kembali dengan lingkungannya.
"Itu yang menjadi dasar kuat ketika tim dokter memutuskan melepas Lisa. Dia mempunyai jiwa yang tangguh dan punya kekuatan untuk bangkit. Apalagi, sebelum dilepas hari ini, beberapa kali sudah dilakukan sosialisasi pada Lisa untuk keluar dan berjalan-jalan di taman kota atau bergaul dengan masyarakat," kembali Nalini memperlihatkan kesiapan Lisa untuk kembali bersosialisasi di masyarakat.
Meski akan dilepas kembali ke lingkungan normal, Nalini juga menegaskan, kalau dirinya dengan tim dokter yang lain, tidak serta merta melepas Lisa tanpa pendampingan.
"Kapan pun dia membutuhkan saya, saya dan tim dokter yang lain selalu siap. Soal pendampingan itu, saya tidak bisa mengatakan seminggu dua kali atau kapan waktunya, tapi kapan-pun saya siap mendampingi," tandas Nalini.
Sementara itu, Direktur RSUD dr Soetomo, dr Dodo Anando mengatakan, setelah pihaknya melihat Lisa beberapa kali berinteraksi, termasuk sempat berjalan-jalan di mal dan bertemu dengan orang-orang di luar rumah sakit, maka bisa dipastikan Lisa sudah siap dilepas oleh rumah sakit.
"Apalagi tadi saya mendengar, ketika ditanya oleh para wartawan, jawaban Lisa sudah cukup bagus. Saat dipanggil pun dia merespon dengan cukup percaya diri, jadi hari ini kita pastikan kalau Lisa sudah siap berinteraksi dengan masyarakat. Tentu ini berkat kerja keras tim dokter, termasuk dr Nalini yang terus mensupport Lisa," tandas Dodo.(mdk/hhw)