Cegah Konflik Sosial, Aria Bima Ajak Para Pendeta di Solo Jaga Toleransi
Wakil Ketua Komisi VI DPR Aria Bima mengatakan, toleransi menjadi satu hal yang tidak bisa dihindarkan. Kebhinekaan menjadi sesuatu yang harus disyukuri dan bukan justru dijadikan perbedaan.
Wakil Ketua Komisi VI DPR Aria Bima mengatakan, toleransi menjadi satu hal yang tidak bisa dihindarkan. Kebhinekaan menjadi sesuatu yang harus disyukuri dan bukan justru dijadikan perbedaan.
Pernyataan tersebut dikemukakan Aria Bima di depan para pendeta anggota Badan Antar Gereja Kristen Surakarta (BAGKS) saat acara Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di GKJ Manahan Solo, Sabtu (26/3).
"Saat ini banyak kelompok yang melihat kebhinekaan sebagai kutukan dari Tuhan. Mereka membuat komunitas homogen dan mengkafirkan kelompok lain termasuk agamanya sendiri," kata Aria Bima.
Hal tersebut, lanjut politikus PDIP, menimbulkan konflik sosial yang justru lahir dari dalam satu agama. Menurut Bima, seharusnya hal itu menjadi tantangan dan tidak justru menjadikan masalah tersebut sebagai narasi politik.
"Kita sangat memiliki naluri kemanusiaan yang tinggi jika dibandingkan dengan perbedaan yang ada," tandasnya.
Anggota DPR RI empat periode itu berharap umat Kristiani mampu menjadikan Pancasila sebagai way of life, terutama dalam menghadapi konflik sosial yang muncul.
Staf Bale Rakyat Aria Bima, Heni Prihartoyo menambahkan, kegiatan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan kali ini mencoba melibatkan para pendeta di Kota Solo, yang tergabung dalam Badan Antar Gereja Kota Surakarta.
"Kami ingin mengajak para pendeta ini untuk menyosialisasikan arti penting 4 Pilar Kebangsaan kepada jemaah, di tengah isu-isu disintegrasi di medsos dan isu SARA," katanya.
Dengan langkah tersebut, diharapkan para pedeta bisa memberikan kesejukan kepada para anggota jemaat, di antaranya dengan menghindari ujaran kebencian, SARA, dan tetap menghargai perbedaan.
"Pancasila jadi ideologi dasar dan kebhinekaan adalah anugerah. Kalau ini bisa disampaikan oleh pendeta kepada jemaah maka alangkah indahnya Indonesia yang penuh dengan kerukunan dan kesejukan," pungkas dia.
Baca juga:
Cerita Persahabatan Menko Luhut Sama Pangeran Arab, Diberi Kiswah Meski Beda Agama
BNPT Gandeng FPH Wasathiyah Cegah Intoleransi dan Radikalisme
Junjung Toleransi, Ini Pengakuan Pria Papua tentang Kumandang Adzan, Bikin Salut
Sekolah Ditutup karena Covid, Anak-Anak Muslim India Belajar di Kuil Hindu
Masyarakat Diingatkan Hormati Perbedaan, Jangan Merasa Paling Benar