'Bunuh menteri' di demo full day school tak cerminkan akhlaq santri
Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Musni Umar prihatin umpatan para santri dalam demo tersebut. Menurutnya, hal itu tak mencerminkan apa yang dipelajari para santri di pesantren.
Video demonstrasi sejumlah santri menolak full day school viral di media sosial. Dalam video itu para santri bahkan berteriak 'bunuh menterinya sekarang juga'.
Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Musni Umar prihatin umpatan para santri dalam demo tersebut. Menurutnya, hal itu tak mencerminkan apa yang dipelajari para santri di pesantren.
"Di pesantren itu ada prinsip berkatalah yang baik atau lebih baik diam. Itu prinsip yang diajarkan di pesantren, supaya akhlaqnya (para santri) mulia," kata Musni kepada merdeka.com, Senin (14/8).
Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta ini mengaku aneh dengan apa yang dilakukan para santri tersebut. Meski demikian dia menduga apa yang dilakukan para santri tersebut akibat dari adanya provokasi yang dilakukan pihak lain.
"Kata-kata provokasi apalagi bunuh hampir kita enggak pernah dengar di pesantren," katanya.
Menurutnya, polemik full day school terjadi akibat beberapa faktor. Pertama kurangnya sosialisasi di masyarakat, kedua sebelum di-launching kurang dialog dengan ormas-ormas Islam.
"Ketiga memang enggak banyak dipahami soal full day school. Pertama dianggap wajib padahal tidak wajib. Sesungguhnya di berbegai tempat juga sudah diterapkan lima hari. Banyak yang tanya kenapa lima hari karena di pesantren kan tujuh hari, 24 jam, aktivitasnya. Nah ini kurang sosialisasi. Nah ini jadi dimanfaatkan pihak lain buat adu domba umat Islam," katanya.
Baca juga:
Demo tolak Full Day School nyanyi 'bunuh menterinya' disorot KPAI
Polisi diminta usut dalang aksi santri teriak 'bunuh menterinya'
DPRD Kabupaten Bogor segera bahas aturan full day school
PKB ikut-ikutan, isu full day school dinilai politis
Jokowi akan terbitkan Perpres Pendidikan gantikan 'full day school'