BPOM Temukan 1,5 Persen Takjil Mengandung Bahan Berbahaya, Angkanya Menurun
Penny mengatakan, temuan 1,5 persen takjil mengandung bahan berbahaya berkat hasil kerja sama dengan semua pihak, terutama pemerintah daerah dan tokoh masyarakat.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) mengawasi peredaran takjil selama Ramadan 2022. Hasil pengawasan menunjukkan, ada 1,5 persen takjil yang diuji mengandung bahan berbahaya.
Rincian bahan berbahaya tersebut ialah formalin 0,7 persen, rhodamin 0,45 persen, dan boraks 0,34 persen. Kepala Badan POM, Penny Kusumastuti Lukito mengatakan temuan 1,5 persen takjil mengandung bahan berbahaya lebih rendah dari tahun lalu.
"Hasil pengawasan menunjukkan bahwa alhamdulillah saya kira ini semakin menurun," katanya dalam konferensi pers, Senin (25/4).
Menurut Penny, penurunan peredaran takjil mengandung bahan berbahaya merupakan kabar baik bagi masyarakat. Namun, temuan ini tak membuat pemerintah lengah. Badan POM, kata Penny, akan terus melakukan pengawasan terhadap peredaran makanan di pasar.
"Ini berita baik, namun tetap perlu waspada dan intensif," ucapnya.
Penny mengatakan, temuan 1,5 persen takjil mengandung bahan berbahaya berkat hasil kerja sama dengan semua pihak, terutama pemerintah daerah dan tokoh masyarakat.
"Pemerintah daerah, tokoh masyarakat bersama-sama Badan POM selalu turun ke pasar-pasar yang menjual takjil selama bulan Ramadan secara intensif," kata Penny.
Baca juga:
BPOM Semarang Temukan Tujuh Sampel Takjil Mengandung Zat Berbahaya
BPOM: Meski Berizin, Jangan Terlalu Sering Konsumsi Pemanis dan Pewarna Buatan
Ini Produk Kinder yang Dihentikan Sementara BPOM, Termasuk Kinder Joy
BPOM Minta Masyarakat Jangan Beli dan Konsumsi Kinder Joy Dulu
BPOM: Hasil Pengujian Kinder Joy Keluar Pekan Ketiga April
Alfamart Setop Jual Kinder Joy Imbas Dugaan Mengandung Bakteri Salmonella