Bom ikan marak di Laut Berau, banyak bangkai penyu hijau mengambang
Hasil investigasi dan wawancara bersama warga sekitar, juga ditemukan bahan amonium nitrat dan sumbu peledak.
Penggunaan bom ikan di perairan Berau, Kalimantan Timur, makin marak. Banyak biota laut rusak hingga mati. Salah satunya penyu hijau (Chelonia Mydas), khas perairan laut Berau, ditemukan mati mengambang.
Pegiat satwa dari ProFauna Borneo serta perkumpulan Biota Laut Berau (BLB), menemukan dua bangkai penyu hijau itu sekitar Maret 2016 lalu di sekitar kecamatan Batu Putih. Selain itu, banyak nelayan juga mengeluhkan tangkapan ikan mereka kian berkurang.
"Jadi, teman-teman di tim awalnya melihat burung yang berputar-putar di atas titik laut tertentu ya. Setelah kita dekati, ternyata ada ikan mati mengambang, juga ada bangkai penyu hijau," kata Koordinator ProFauna Borneo, Bayu Sandi kepada merdeka.com, Selasa (31/5).
Dalam penelusuran tim, hasil investigasi dan wawancara bersama warga sekitar, juga ditemukan bahan amonium nitrat dan sumbu peledak. Bahkan lebih mencengangkan lagi, bungkus bahan amonium nitrat tertera asal Malaysia.
"Ada juga sumbu bahan peledak yang bisa tahan di dalam air, dari Sulawesi. Jadi, amonium nitrat diracik masuk dalam botol, kemudian diberi pemberat agar masuk dalam air," ujar Bayu.
"Bangkai penyu yang kita temukan mati itu ya, tidak menutul kemungkinan banyak penyu lainnya yang mati di laut Berau ini. Memprihatinkan, selain merusak terumbu karang sebagai rumah ikan, juga mematikan satwa laut," tambah Bayu.
Bayu juga memastikan, setiap temuannya bersama pegiat perkumpulan BLB, terus dikoordinasikan bersama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Berau.(mdk/ang)