BNPB sebut 148 juta rakyat Indonesia tinggal di daerah rawan gempa
BNPB sebut 148 juta rakyat Indonesia tinggal di daerah rawan gempa. Berdasarkan kajian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa bumi berkekuatan 6,5 SR di Pidie Jaya, Aceh bisa jatuh banyak korban akibat bangunan rumah tidak tahan gempa. Apalagi, sebanyak 148 juta orang diyakini tinggal di daerah rawan gempa
Berdasarkan kajian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa bumi berkekuatan 6,5 SR di Pidie Jaya, Aceh bisa jatuh banyak korban akibat bangunan rumah tidak tahan gempa. Apalagi, sebanyak 148 juta orang diyakini tinggal di daerah rawan gempa.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, bencana itu menjadi pelajaran berharga bagi warga lain di tanah air. "Dengan kondisi seperti ini, semakin menyadarkan kepada kita arti pentingnya bangunan rumah tahan gempa," kata Sutopo di Kantor BNPB, Jakarta, Rabu (7/12).
Menurut Sutopo, Indonesia sebetulnya masih terancam darurat gempa bumi. Sebab, masih 148 juta masyarakat tinggal di daerah rawan gempa, baik rawan gempa sedang sampai rawan gempa tinggi.
Di samping itu, banyak bangunan-bangunan rumah, bangunan-bangunan dan infrastruktur yang belum menyesuaikan ketahanan gempa. Meski demikian, untuk membuat bangunan yang tahan gempa diakuinya lebih mahal dibandingkan bangunan biasa.
"Kenapa seperti itu? Karena untuk membangun rumah tahan gempa itu biayanya lebih mahal dari pada rumah biasa. Komponennya lebih mahal sekitar 30 sampai 50 persen dibandingkan dengan rumah biasa sehingga dalam hal ini perlu ada regulasi-regulasi, perlu ada insentif," jelas Sutopo.
Salah satu contoh intensif yang dimaksud yakni, bagi masyarakat yang membangun rumah tahan gempa perlu dikurangi pajaknya, atau diberikan subsidi sehingga masyarakat tidak terbebani membangun rumah tahan gempa.
"Kalau tidak (diberi intensif atau subsidi) maka semuanya dibebankan kepada masyarakat tentu masyarakat tidak mampu apalagi bagi masyarakat yang pendapatannya menengah ke bawah," kata dia.
Tak hanya karena biaya pembangunan rumah tahan gempa yang terbilang mahal, persoalan kurangnya tenaga profesional menjadi kendala pembangunan rumah tahan gempa.
"Tukang-tukang yang paham tentang rumah tahan gempa itu masih sangat minim perlu terus kita latihkan, tata ruang juga demikian. Daerah-daerah sesar, jalur-jalur gempa hendaknya tidak dibangun menjadi pemukiman permukiman. Nah penataan ruang tadi menjadi penting untuk mengatur," pungkas Sutopo.
Baca juga:
Menengok kondisi korban gempa Pidie Jaya
Ini penyebab gempa Aceh telan banyak korban versi BNPB
Gempa 6,5 SR sebabkan sejumlah jalanan di Aceh retak
Data korban dan bangunan roboh di Kabupaten Bireuen akibat gempa
Jurnalis di Medan kumpulkan bantuan untuk korban gempa Aceh