LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

BMKG Sebut Teknologi InaCBT Memperkuat Sistem Peringatan Dini Tsunami

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyambut positif kehadiran InaCBT (Cable Based Tsunameter) yang diinisiasi oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

2021-10-13 09:55:36
BMKG
Advertisement

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyambut positif kehadiran InaCBT (Cable Based Tsunameter) yang diinisiasi oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). InaCBT itu saat ini berada dalam kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kehadiran teknologi tersebut memperkuat sistem peringatan dini tsunami Indonesia atau InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System).

"Tantangan Indonesia tidak hanya tsunami yang diakibatkan fenomena tektonik atau kegempaan, namun juga tsunami non tektonik yang dipicu longsoran lereng gunung ke laut atau longsor lereng pantai," kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwikorita Karnawati dalam keterangannya, Rabu (13/10).

Dwikorita menyebut, InaTEWS harus diperkuat karena sejak tahun 2013 terjadi tren peningkatan aktivitas gempa bumi di Indonesia baik dalam jumlah maupun kekuatan.

Advertisement

Berdasarkan catatan BMKG, setidaknya terjadi gempa bumi 4234 kali tahun 2013. Kejadian gempa secara berturut-turut meningkat menjadi 4.434 kali pada Tahun 2014, 5.299 kali pada tahun 2015, 5.464 kali pada tahun 2016, dan 7.169 kali pada Tahun 2017.

Akan tetapi, aktivitas gempa bumi melompat menjadi 11.920 kali pada tahun 2018, dan Tahun 2019 kejadian gempa bumi masih di atas 11.000 yaitu 11.588 kali. Meski di tahun 2020 kejadian gempa bumi menurun menjadi 8.258 kali, namun jumlah tersebut masih di atas rata-rata kejadian gempa bumi tahunan di Indonesia.

“BMKG sendiri terus berupaya melakukan penyempurnaan sistem peringatan dini tsunami dengan melibatkan pakar, akademisi, perguruan tinggi, dan asosiasi keilmuan guna mewujudkan zero victim. Baru-baru ini, BMKG juga meluncurkan EWS Radio Broadcaster dan aplikasi SIRITA (Sirens for Rapid Information on Tsunami Alert),” imbuhnya.

Advertisement

Dwikorita mengatakan kehadiran InaCBT akan semakin memperkuat sistem peringatan dini tsunami yang sudah ada. Teknologi itu berperan sebagai perangkat deteksi percepatan gempa bumi dan anomali tekanan air laut yang mengindikasikan tsunami di lokasi-lokasi potensial. Sistem dan sensor-sensor pendeteksi tersebut terpasang dan ditempatkan pada jaringan kabel bawah laut.

Menurut Dwikorita, InaCBT idealnya terintegrasi dalam jaringan observasi pendeteksian tsunami dalam system InaTEWS yang beroperasi saat ini, sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut untuk deteksi tsunami non-tektonik.

Reporter: Yopi Makdori

Baca juga:
BMKG Pastikan Gempa di Bitung Akibat Aktivitas Lempeng Laut Maluku
Cuaca Jakarta Hari Ini Diprediksi Cerah, Bogor Hujan Disertai Petir
BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem 10 Hari ke Depan, Wilayah Papua Diingatkan Waspada Banjir
BMKG Ingatkan Dampak Bibit Siklon Tropis 92W terhadap Wilayah Indonesia
Gempa Magnitudo 5.3 Akibat Sesar Lokal Guncang Laut Banda

(mdk/ray)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.