Bisnis di Saudi banyak menggantungkan pada jemaah haji Indonesia
Bisnis di Saudi banyak menggantungkan pada jemaah haji Indonesia. Geliat usaha kecil menengah di Arab Saudi atau pun usaha perhotelan di Arab Saudi sangat menggantungkan pada jemaah haji dan umrah asal Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya toko atau tempat usaha dadakan selama musim haji tahun ini.
Geliat usaha kecil menengah di Arab Saudi atau pun usaha perhotelan di Arab Saudi sangat menggantungkan pada jemaah haji dan umrah asal Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya toko atau tempat usaha dadakan selama musim haji tahun ini. Mereka membuka usaha di sepanjang hotel tempat jemaah haji Indonesia menginap.
Bahkan, di kawasan Corniche Market, Albalad, Jeddah, para penjual souvenir, makanan dan berbagai barang-barang elektronik sangat menggantungkan pada jemaah umroh dan haji asal Indonesia.
"Kalau tidak ada jemaah umroh Indonesia, habis semua para penjual di sini," kata Medi, pengusaha restoran Indonesia yang setiap hari buka di kawasan Albalad saat dikunjungi tim Media Center Haji Kementerian Agama, belum lama ini.
Medi di Jeddah membuka usaha restoran Indonesia dan Asian Food yang diberi nama Restoran Garuda. Mengaku sudah bertahun-tahun buka usaha kuliner di Saudi, Medi menceritakan suka duka selama menjalankan usahanya yang merupakan patungan dengan orang asli Arab Saudi ini. Menurutnya bisnis di Saudi tidak mudah. Selain harus berpartner dengan orang setempat, biaya yang dikeluarkan tidak sedikit.
"Saya di sini sewa tempat setahun biayanya hampir Rp 1 miliar," cerita Medi.
Tak cuma itu, biaya tiap bulan untuk membiayai usahanya juga tidak sedikit. Untuk beli air saja, setiap harinya Medi tidak kurang mengeluarkan biaya 300 Riyal, atau Rp 1 juta lebih. "Apalagi kalau jemaah umroh lagi ramai-ramainya, untuk air buat kamar kecil mereka saja kita menghabiskan banyak air. Setiap hari kita beli air," imbuhnya.
Bagaimana dengan keuntungan yang didapatkan? Medi tidak memberikan penjelasan secara detail. Namun dia mengindikasikan saat ini tidak mudah buka usaha rumah makan di Saudi.
"Kalau dulu zaman hajian tidak seperti ini," kata Medi sembari menunjukkan restorannya yang tampak tidak terlalu ramai meski saat ini memasuki musim haji.
"Pokoknya kalau tidak ada jemaah umroh, kawasan ini mati," imbuhnya.
Tak cuma di kawasan Balad, di hotel-hotel sekitar jemaah haji menginap di Makkah juga banyak yang mengandalkan jemaah haji Indonesia. Mereka membuka toko-toko baik permanen atau semi permanen dengan logo 'Toko Indonesia' untuk menarik minat pembeli jemaah haji Indonesia. Namun saat jemaah haji Indonesia pulang, mereka pun gulung tikar, menutup tokonya.
"Waktu kita datang dulu di sini masih sepi. Belum ada penjual-penjual seperti ini, dan hotel-hotel juga masih tutup" kata salah satu jemaah asal Indonesia yang tinggal di kawasan Syisyah, Makkah, Saiful.
Namun saat jemaah haji Indonesia mulai meninggalkan Makkah, toko-toko itu pun kembali tutup. Buka lagi saat musim haji tahun depan.
Baca juga:
Mulai lengang, 27 kloter jemaah haji Indonesia tinggalkan Makkah
Evaluasi Misi Haji Indonesia untuk Muassasah Asia Tenggara
Mampir ke Masjid Qisos, tempat para terpidana pembunuhan dipancung
49 Hari masa operasional haji, 269 jemaah haji Indonesia wafat
Ada pesawat tergelincir di Halim, kepulangan jemaah haji tertunda