BIN nilai isu SARA dan PKI masih 'dimainkan' dalam Pilkada Serentak
"Hoaks bertumbuh dengan cepat di antara masyarakat yang tidak kritis. Generasi milenial paling rentan bahaya hoaks," ujar Wawan.
Direktur Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto menilai isu SARA dan PKI merupakan isu yang masih santer dimanfaatkan para penebar hoaks. Dia menilai, isu tersebut ramai diangkat pada Pilkada Serentak 2018 nanti.
"Masih, masih diangkat (isu Sara, PKI), pasti akan diangkat. Semua yang terkait pada satu dua titik pasti diangkat, ditambah kelemahan lain yang dicari," kata Wawan usai diskusi hantu hoaks dalam pemberitaan media di Hotel Oria, Sabang, Jakarta Pusat, Selasa (14/3).
Dia juga menyebut Indonesia negara yang masih rentan terhadap hoaks. Sebab, lebih dari 50% jumlah penduduk Indonesia merupakan pengakses internet. Hal ini bahaya, terutama bagi remaja yang tak kritis dan rawan terprovokasi.
"Hoaks bertumbuh dengan cepat di antara masyarakat yang tidak kritis. Generasi milenial paling rentan bahaya hoaks," ujar Wawan.
Wawan melanjutkan hoaks merupakan masalah global yang harus dicegah. Masyarakat pun perlu berliterasi di medsos mulai dari tautan gambar, teks jejaring, dan pertemanan daring seperti Facebook, Twitter, Instagram, hingga pesan berantai WhatsApp.
"Karena itu perlu sikap kritis. Pengguna internet yang tidak waspada dengan teror hantu hoaks dengan mudah menyebarkannya kepada koleganya di ruang daring sehingga memunculkan efek bola salju yang menggelinding makin besar," pungkasnya.
Baca juga:
BIN minta penyebar hoaks tak mesti langsung dipenjara tetapi dibina
'Partai politik harus dipaksa berkomitmen perangi hoaks'
Butuh langkah konkret agar melawan hoaks tak sebatas slogan
Polda Metro mengaku menerima 5 laporan soal hoaks & fitnah tiap hari
Jenderal Tito tegaskan nama kelompok MCA bukan berasal dari Polri