LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Bima Arya tak setuju Baranangsiang menjadi stasiun LRT

Alasan Bima karena itu bertentangan konsep mengatasi kemacetan di pusat Kota Bogor.

2016-02-02 20:04:28
LRT
Advertisement

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengaku tak setuju rute akhir Kereta Api Ringan/Light Rail Transit (LRT) Cibubur-Bogor yang diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) 9 September 2015 lalu, Stasiunnya di Baranangsiang. Sebab kebijakan Jokowi dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98 Tahun 2015 tentang percepatan LRT terintegrasi wilayah penyangga ibu kota itu, bertentangan rencana tata ruang wilayah dan tata kota dalam mengatasi kemacetan di pusat Kota Bogor.

"Saat saya melihat presentasi awal soal proyek yang melintasi Tol Jagorawi ini, wah saya langsung terpikir bahwa proyek ini bertentangan dengan Rencana Tata Ruang dan Tata Kota, terkait dengan pengurangan beban di tengah (pusat kota)," kata Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, Selasa (2/2).

Saat pembahasan rencana pembangunan rute LRT Cibubur-Bogor itu, Bima mengusulkan untuk memindahkan stasiun akhir LRT itu jangan di Baranangsiang (Pusat Kota) tapi ke Tanah Baru (pinggir kota).

"Saat itu juga saya spontan mengusulkan (memindah) ke Tanah Baru saja. Tapi persoalannya, peraturan presiden ini harus diubah. Karena dalam peraturan itu bukan ke Tanah Baru, tapi ke Baranangsiang. Kemudian, jika ke Tanah Baru, kita harus bekerja keras untuk menyiapkan backup sistem. Jangan sampai nanti LRT masuk, tapi orang susah ke situ," ujarnya.

Ingin lebih mudah, jika memang proyek LRT ini akan masuk Kota Bogor pada Juni 2018, menurutnya adalah menyediakan infrastruktur atau backup sistem.

"Tetapi di sisi lain, ini bertentangan dengan niat kita menggeser ke pinggir. Memang backup sistem lebih mudah di Baranangsiang, tapi saya khawatir agak panjang lagi proses kita menarik ke pinggir, akhirnya ada opsi, keduanya saja (Tanah Baru-Baranangsiang)," ujarnya.

Akan tetapi, lanjutnya, itu perlu pengkajian lagi, dikarenakan begitu dihubungkan dengan LRT sama juga arus lebih banyak ke tengah.

"Karena mobilitas orang antara Tanah Baru-Baranangsiang, akan ada stasiun-stasiun menjadi daya tarik orang di situ (munculnya distro atau tempat usaha lain. Kemudian tinggi tiang pancang rel LRT itu 35 meter, sedangkan Tugu Kujang sendiri 25 meter. Mau dibuat kamuflase apapun, saya tidak bisa membayangkan tiang pancang LRT itu mengganggu estetika Tugu Kujang, makanya saya tidak setuju," ungkapnya.

Padahal berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kerata Api Ringan/Light Rail Transit (LRT) terintegrasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi, disebutkan bahwa ujung proyek untuk wilayah Bogor itu yakni di Baranangsiang.

"Jadi nantinya, LRT yang melintas melalui Tol Jagorawi itu diupayakan tidak berakhir di Baranangsiang. Kita sudah koordinasi dengan Kementerian Perhubungan soal pemindahan rencana stasiun LRT di Baranangsiang ke Kedunghlangh. Sehingga LRT itu di Kota Bogor, masuk melalui Sentul City ke Tanah Baru dan ke Kedunghalang," kata Kepala Bappeda Kota Bogor, Suharto.

Sedangkan untuk melayani masyarakat yang ada di pusat kota atau Baranangsiang, pihaknya mengusulkan akan menyelenggarakan angkutan massal sejenis kereta trem.

"Nantinya, untuk menuju ke Baranangsiang akan dilanjutkan dengan menggunakan trem. Pemindahan Stasiun Baranangsiang ke Kedunghalang/Tanah Baru ini, sudah berdasarkan kajian yang disetujui langsung oleh Wali Kota," ungkapnya.(mdk/cob)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.