Berburu bungker peninggalan Jepang di Makassar
Di Makassar, tepatnya di Desa Lakkang yang terkenal dengan sebutan Pulau Lakkang, Kelurahan Lakkang, Kecamatan Tallo, terdapat sejumlah bungker peninggalan zaman Jepang. Kondisinya belum dikelola secara baik oleh pemerintah daerah setempat.
Di Makassar, tepatnya di Desa Lakkang yang terkenal dengan sebutan Pulau Lakkang, Kelurahan Lakkang, Kecamatan Tallo, terdapat sejumlah bungker peninggalan zaman Jepang. Kondisinya belum dikelola secara baik oleh pemerintah daerah setempat.
Untuk menuju bungker-bungker tersebut khususnya bagi pengunjung yang baru mendatangi Desa Lakkang, membutuhkan waktu yang tak sebentar dan harus rajin bertanya ke warga lantaran tak ada tanda petunjuk.
Bukan hanya lokasi, jumlah bungkernya saja belum ada kepastian. Ada yang mengatakan 11, tujuh, lima bahkan empat bungker. Yang pasti, di tengah masyarakat desa itu adalah, banyak bungker tapi sebagian besar sudah hancur dan sengaja ditutup karena khawatir dijadikan tempat bermain oleh anak-anak.
Bungker peninggalan Jepang di Makassar ©2018 Merdeka.com
Merdeka.com berkesempatan untuk berburu bungker di Desa Lakkang. Kesan pertama yang dirasa adalah keramahan warga di sana. Mereka sangat terbuka, penuh senyum menyambut orang baru.
Mereka akan dengan ramah menyapa meski sekadar basa basi menawarkan singgah ke rumahnya atau bertanya mau ke mana. Jika tahu yang dicari adalah lokasi bungker, mereka pasti menunjukkan lokasinya harus belok di mana atau harus berjalan lurus ke mana.
Bahkan, kalau ada pengunjung yang berminat menginap satu atau dua hari untuk menikmati ademnya desa tersebut dilanjutkan dengan jogging keesokan harinya mengitari desa, mereka dengan senang hati menawarkan rumahnya tanpa dipungut bayaran.
Kelebihan berikutnya adalah suasana pedesaannya yang asri dan natural. Di sana ada sungai, tambak, kebun, sawah, hutan bambu yang menghiasi perkampungan sederhana warga yang bermukim di atas lahan seluas kurang lebih 200 hektare itu.
Sejak di dermaga yang terletak di Kampung Kera-kera, Kecamatan Tamalanrea, tepatnya di belakang kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), mata sudah dimanjakan dengan bentangan sungai yang di kiri kanannya hamparan tanaman nipa dan bakau. Ada tiga perahu penyeberangan yang selalu siap melayani warga yang hendak masuk atau keluar dari Desa Lakkang. Saat perahu melaju membelah sungai yang alirannya menuju laut itu, semilir angin pun menyambut. Bagi yang berminat piknik sederhana di akhir pekan tanpa harus keluar jauh-jauh dari Kota Makassar, Desa Lakkang ini bisa jadi alternatif.
Asyik, seru, natural dan tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam karena sewa perahu penyeberangan yang terdiri dari dua perahu kecil diikat bergandengan itu saja hanya Rp 3.000 per orang. Dari dulu harganya tidak naik-naik. Untuk satu sepeda motor cukup Rp 5.000. Kurang lebih 15 menit sudah tiba di Desa Lakkang.
Bungker peninggalan Jepang di Makassar ©2018 Merdeka.com
Desa Lakkang ini terkenal dengan sebutan Pulau Lakkang meski sesungguhnya adalah sebuah delta yang terbentuk menjadi daratan di tengah–tengah muara Sungai Tallo dan Sungai Pampang. Di Pulau Lakkang ini, mata pencarian penduduknya sebagai nelayan, petambak dan petani. Selain bungker, daerah ini juga dikenal dengan kuliner udang dan kepiting.
"Ada lima itu bungker yang ku tahu. Nenek-nenek dulu cerita, bungker itu tempat tentara Jepang sembunyi kalau ada lagi pesawat-pesawat Belanda terbang di atas. Ini kampung jadi tempat perlindungan," tutur Haji Dorahi (56), salah seorang warga yang ditemui di Pulang Lakkang.
Daeng Mariati (60), juga salah seorang warga mengaku tidak tahu banyak mengenai bungker tersebut. Yang jelas, semasa kecilnya, bungker-bungker itu jadi tempat bermainnya. Cerita dari pendahulunya juga, selain jadi tempat persembunyian tentara Jepang, bungker itu juga jadi tempat menyimpan beras para tentara-tentara itu. Jika pesawat-pesawat Belanda melintas di atas, tentara itu berlarian masuk ke bungker, sementara warga setempat berlindung ke rindangnya pepohonan beringin supaya tidak terlihat dari atas.
"Banyak itu bungker di sini. Ada di sana, ada di sana. Sudah beberapa kali ada orang Jepang yang sudah tua-tua datang lihat-lihat bungker. Pernah juga ada pelajar dari Jepang," ujar Daeng Mariati sembari menunjuk.
Bungker peninggalan Jepang di Makassar ©2018 Merdeka.com
Tetapi, kata dia, sudah banyak yang rusak. bungker itu memang terbuat dari beton tapi karena usianya sudah tua, tentu sudah tidak kuat lagi. Sehingga warga khawatir kalau anak-anak menjadikan bungker itu tempat bermain sebagaimana mereka dulu. Alhasil, tidak sedikit mulut bungker yang tertutup sampah.
Dari penelusuran merdeka.com beberapa hari lalu, hanya empat bungker yang berhasil didapati. Ada dua yang paling besar terletak di tengah hutan bambu. Keduanya nampak jelas jika itu adalah bungker karena terlihat pintu masuknya dan jika melongo, ada tangga betonnya untuk turun dan masuk ke bungker itu. Dan posisinya agak tinggi seperti di atas gundukan tanah yang sekitarnya adalah sampah dedaunan dan ranting-ranting pohon kering. Hanya satu di antaranya terlihat dipasangi papan 'situs bungker Jepang'.
Dua bungker lainnya sudah tidak terlihat jelas kecuali jika kita menanyakan ke warga. Pasalnya, satu bungker itu terletak di bawah tangga rumah warga, sudah ditutup dan dijadikan tempat menata pot-pot bunga. Kemudian satu bungker lagi berada di belakang rumah warga, dulu sempat dijadikan septic tank.
Rudianto Lallo (36), salah seorang legislator DPRD Makassar, juga warga asli dari Pulang Lakkang itu saat dikonfirmasi mengaku sudah tidak tahu persis jumlah bungker di desanya itu. Sekitar lima bungker kata dia, karena sempat juga dijadikan tempat bermain kala kecilnya.
Dia ikut menyayangkan nasib bungker peninggalan Jepang yang memprihatinkan itu. Kata dia, situs tersebut selain bernilai edukatif juga bisa bernilai ekonomis bagi warga sekitar jika dikelola dengan baik. Bukan hanya dari pihak pemerintah, warga juga harus turut ambil bagian.
Bungker peninggalan Jepang di Makassar ©2018 Merdeka.com
"Jika keberadaan bungker-bungker itu dikelola dengan baik, selain bisa menjadi wisata edukatif, jadi objek penelitian, warga sekitar juga bisa memetik manfaat dari sisi ekonominya. Karena di Pulau Lakkang ini memang, yang menarik bagi orang-orang di luar sana selain kulinernya seperti kepiting dan udang, juga karena bungkernya. Warga dituntut kreatif bagaimana petik manfaatnya. Misalnya jika sehari-hari hanya tiga perahu yang lalu lalang melayani warga, bisa saja perahu bertambah kalau pengunjung kian banyak. Kemudian memaksimalkan suguhan kuliner khasnya. Tapi sayangnya, dari tahun ke tahun tidak ada yang berubah. Pulau Lakkang masih seperti yang dulu," tutur Rudianto Lallo.
Tahun 2011 lalu, kata legislator DPRD Makassar ini, pihak Lantamal VI sudah pernah datang lakukan penggalian di beberapa bungker, masyarakat ikut membantu. Tapi bungker itu kembali tertimbun dan dibiarkan oleh pemerintah kota.
"Berkali-kali kami suarakan agar situs peninggalan Jepang itu segera ditetapkan sebagai cagar budaya dan juga berkali-kali dalam rapat pembahasan di Banggar, bungker tersebut diperjuangkan tapi baru tahun 2018 ini pemerintah kota terlihat fokus," kata Rudianto Lallo.
Baca juga:
Sebelum dipamerkan, keris bantuan Kemendikbud di Solo akan diritualkan
Penemuan makam bangsa Chimu dari abad ke-10 di Peru
BPBD duga goa ditemukan di Samarinda eks persembunyian pejuang dari penjajah Jepang
Gua diduga peninggalan zaman penjajahan ditemukan di Samarinda
Pengiriman pusaka Majapahit ke Solo hindari Alas Roban dan Jembatan Tuntang