LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Bentengi Anak dari Pengaruh Radikalisme di Media Sosial

Hari Anak Nasional hendaknya menjadi momentum untuk membentengi anak dari radikalisme, narkoba, dan pornografi. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus mendapat prioritas dari pemerintah maupun masyarakat.

2019-07-24 17:42:34
Terorisme
Advertisement

Hari Anak Nasional hendaknya menjadi momentum untuk membentengi anak dari radikalisme, narkoba, dan pornografi. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus mendapat prioritas dari pemerintah maupun masyarakat.

"Intinya perlindungan anak sebetulnya sudah menjadi agenda dan prioritas pembangunan nasional sehingga idealnya anak terlindungi dari radikalisme, perlakuan negatif, juga bahaya narkoba," ujar mantan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Maria Advianti dalam keterangannya, Rabu (24/7).

Dia menjelaskan, anak menjadi obyek yang sangat mudah terpapar radikalisme karena sangat mudah menyerap doktrin. Selain itu, anak cenderung lebih loyal dari orang dewasa sehingga mudah menjadi radikal.

Advertisement

"Inilah yang membuat anak mudah didoktrin atau termakan propaganda radikalisme, tanpa mereka menyadari," ungkap Maria.

Menurut Maria, banyak faktor yang membuat anak rentan terjangkit radikalisme. Namun yang utama adalah faktor keluarga dan institusi pendidikan. Dia mendorong ada sistem untuk memverifikasi guru karena penyebaran radikalisme sudah sangat masif.

"Dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus berkolaborasi membuat formula untuk menangkal radikalisme dari sekolah," tutur Maria.

Advertisement

Selain itu, lanjutnya, keluarga khususnya orangtua, jangan cuek dengan aktivitas anak. Artinya, orangtua harus selalu cek pelajaran yang didapat anaknya. Tidak ketinggalan, Maria juga mengajak semua pihak mewaspadai medsos. Menurutnya, medsos jadi salah satu alat penyebaran paham radikal yang sangat luar biasa.

"Anak-anak ketika mendapat informasi radikalisme, biasanya pertama penasaran, bukan takut. Justru para teroris ini memanfaatkan rasa penasaran anak-anak sehingga menggiring mereka untuk mengakses informasi yang sudah dirancang melalui medsos," jelas Maria.

Karena itu, orangtua diminta jangan gaptek terhadap medsos tetapi harus ikut aktif. Meski tidak secanggih sang anak, minimal dengan aktif bermedsos, komunikasi dan pengawasan orangtua terhadap anak bisa lebih baik.

Baca juga:
ACT Bantah Terafiliasi Gerakan Radikal
Kepala BNPT Ingatkan Caleg Terpilih Cegah Paham Radikal Berkembang
Hati-Hati Begini Cara ISIS Rekrut WNI, Jangan Sampai Tergoda
Menhan Sebut Militan ISIS Kembali ke Negara Asal Jadi Ancaman Utama
Pemerintah Berencana Perketat Seleksi PNS dan TNI Terkait Radikalisme
Moeldoko soal TNI Terpapar Radikalisme: Kalau Tak Bisa Diperbaiki, Buang ke Laut

(mdk/did)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.