BEM Perguruan Tinggi Agama Islam tolak aksi demo 2 Desember
BEM Perguruan Tinggi Agama Islam tolak aksi demo 2 Desember. Jangan sampai Indonesia hancur seperti Irak dan Suriah akibat primordialisme.
Demo sejumlah elemen keagamaan pada 4 November 2016 lalu berbuntut 5 kader Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) sebagai tersangka. Aksi tersebut terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur non-aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Meskipun dalam kasus ini Ahok sudah jadi tersangka tidak serta merta membuat beberapa pihak puas. Alhasil, aksi susulan di tanggal 2 Desember menuntut Ahok segera ditahan pun dikabarkan bakal berlangsung.
Terkait hal itu, Forum Komunikasi Badan Eksekutif Mahasiswa (Forkom BEM) Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) se-Indonesia menolak rencana aksi susulan yang digelar oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI.
Presidium Nasional BEM PTAI, Maldini meminta kepada semua pihak tidak menjadikan agama sebagai alat untuk mengejar target politik.
"Beberapa waktu belakangan ini sering kita lihat kejadian-kejadian yang mengandung isu SARA (Suku, Ras, dan Agama) menimpa bangsa Indonesia," ujar Maldini dalam keterangannya, Jumat (25/11).
Maldini menilai aksi 4 November tidak sejalan dengan ajaran islam sendiri. "Peristiwa yang terbaru adalah Aksi Bela Islam yang dilakukan beberapa ormas Islam tertentu pada tanggal 4 November. Aksi ini jelas tidak sejalan dengan Islam sendiri sering disebut agama yang menjadi rahmat bagi alam semesta," ungkapnya.
Maldini menyebutkan jangan sampai Indonesia hancur seperti Irak dan Suriah akibat primordialisme. "Jangan sampai kejadian di negara seperti Irak, Suriah, Afghanistan, bahkan Yugoslafia (yang hancur karena primordialisme dan sektarianisme) menimpa bangsa Indonesia," tandasnya.
Baca juga:
Ormas Islam di Medan janji demo 2 Desember bakal damai
Menteri Ryamizard tegaskan demo 2 Desember tidak ada makar
Gus Nuril sebut FPI bangunkan macan tidur kalau demo 2 Desember
PAN persilakan buruh demo 2 Desember tapi tertib dan tak bikin gaduh
Sekjen PDIP: Penghinaan ke Gus Mus sangat tidak bisa diterima