LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Beli Inter Milan, jangan sebut Erick Thohir tak nasionalis

"Wajar jika Erick lebih memilih Inter Milan ketimbang memodali persepakbolaan di Indonesia."

2013-10-17 11:34:53
Thohir Beli Inter Milan
Advertisement

Presiden Internazionale Milan, Massimo Moratti, akhirnya melepas 70 persen kepemilikan sahamnya di klub sepak bola Italia itu kepada trio pengusaha Indonesia Erick Thohir, Rosan Roeslani, dan Handy Soetedjo yang tergabung dalam International Sports Capital. Uang sebesar USD 476 juta atau senilai Rp 5,2 triliun dibayarkan Erick.

Aksi bisnis Erick di dunia olah raga ini bukan yang pertama. Erick sejak lama dikenal menggemari basket. Dia memiliki klub Satria Muda yang berlaga di kompetisi basket nasional. Erick juga bersama sebuah konsorsium mengambil alih kepemilikan klub basket NBA Philadelphia 76ers. Aksi Erick di Amerika belum berhenti ketika dia mengakuisisi saham di klub Major League Soccer (MLS) DC United.

Pengamat sepak bola yang juga pengajar di Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi menganggap langkah Erick Thohir mengambil alih Inter Milan sangat tepat karena langkah terobosan ini dianggap mujarab untuk "menyeret" sepak bola nasional ke pentas dunia.

"Saya yakin jika ada pemain nasional kita memiliki talenta yang berkualitas maka akses untuk menembus pentas dunia makin terbuka lebar. Jangan dilihat dari jumlah uang yang dikeluarkan Erick setara dengan berapa banyak stadion sepak bola modern bisa dibangun di tanah air atau berapa besar pengembangan sepak bola di tanah air, kita saatnya untuk go international. Harus diakui sebagai pengusaha, pengambilalihan Inter Milan oleh Erick karena bernilai ekonomis yang tinggi," jelas Ari dalam perbincangan dengan merdeka.com, Kamis (17/10).

Ari melihat, klub Inter Milan sebagai juara tiga kali gelar Piala Champions Eropa, 15 kali gelar scudetto, 3 kali Piala Liga Italia dan pernah juara dunia antar klub, memiliki nilai jual tinggi di mata pemasang iklan.

"Ingat, nilai jual siaran tayang pertandingan Inter Milan yang tinggi, penjualan merchandise serta faktor suporter yang besar di seluruh dunia menjadikan nilai bisnis Inter Milan sangat menjanjikan. Saya yakin dengan pengalaman Erick mengolah klub basket NBA Philadelphia 76ers serta klub sepak bola MLS DC United di AS serta beragam lini usaha di tanah air dan mancanegara, sentuhan tangan midas akan bertaji di Inter Milan," kata peraih gelar doktor komunikasi politik ini.

Terkait kritikan seharusnya uang Erick bisa dipakai untuk membangun sepak bola di Indonesia, Ari menilai, sebenarnya bos Grup Mahaka itu sudah membuka akses bagi para pemain Indonesia. "Buktinya Syamsir Alam dan Andik Vermansyah. Hanya saja mungkin karena kelas pemain kita yang belum optimal. Andik hanya sempat trial 2 minggu dan Syamsir baru masuk skuad kelas reserve DC United," ujarnya.

"Harus diakui, sebagai bisnisman tentu Erick juga harus berhitung soal investasinya. Wajar jika Erick lebih memilih Inter Milan ketimbang memodali persepakbolaan di Indonesia," imbuh Ari.

Dia menegaskan, tidak ada yang salah dengan langkah Erick berinvestasi di luar negeri ketimbang di dalam negeri. "Sangat salah jika Erick disebut tidak nasionalis hanya karena membeli Inter Milan dan tidak langsung membenahi persepakbolaan tanah air. Justru dengan membeli Inter Milan, akses pemain nasional untuk berkiprah di pentas dunia makin terbuka lebar," tandas Ari.(mdk/bal)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.