Begini Kegiatan Pondok Pesantren Lokasi Eksodus Warga Ponorogo di Malang
Santri pondok tersebut tercatat sebanyak 573 orang santri dari 177 Kepala Keluarga (KK). Dari jumlah tersebut, sebanyak 132 KK tinggal di dalam lingkungan pondok, sementara 45 KK luar Ponpes.
Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin berada di Desa Pulosari, Kacamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Pondok Pimpinan KH Muhammad Romli (Gus Romli) ramai menjadi pembicaraan menyusul isu eksodus 52 orang warga Ponorogo ke pondok tersebut karena isu terjadinya kiamat.
Keberadaan pondok tersebut di bagian barat Kabupaten Malang yang berdekatan dengan wilayah Kabupaten Kediri. Jika ditempuh dari arah Kota Malang, masuk ke kiri sekitar 2 kilometer dari akses jalan utama Malang-Kediri.
Santri pondok tersebut tercatat sebanyak 573 orang santri dari 177 Kepala Keluarga (KK). Dari jumlah tersebut, sebanyak 132 KK tinggal di dalam lingkungan pondok, sementara 45 KK luar Ponpes.
Selain itu juga memiliki santri yang mengikuti program triwulan, yakni bulan Rajab, Sya'ban dan Puasa. Peserta sebanyak 396 anggota, sebanyak 277 tinggal di dalam Ponpes dan 119 di luar lingkungan pondok, dengan menyewa rumah warga sekitarnya.
Santri berasal dari Kasembon 51 orang, Kediri 106 orang, Lampung 50, Ponorogo 42, Jember 63, Boyolali 45. Sisanya berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Tuban, Surabaya, Jombang, Mojokerto, Blitar, Ngawi, Tulungagung, Nganjuk, Jember, Magelang, Ngasem dan lain-lain.
Sebanyak 42 orang warga asal Ponorogo yang belakangan ramai dikabarkan 'eksodus' karena mengikuti program 'Mondok Rajabiyahan dan Biatan Plus Romadhon'.
Salah satu peserta program triwulan, Giyanti (30) ikut mondok bersama suami dan anaknya yang berusia 4 tahun. Ia bersama keluarga berniat beribadah dengan mengaji dan mencari ilmu.
"Ke sini niatnya juga ngaji," ungkapnya mengawali jawaban.
Giyanti menegaskan dasar niatnya mondok yakni Alquran dan Hadist yang memerintahkan untuk menuntut ilmu tanpa batas usia, termasuk yang dilakukannya bersama keluarga.
Sejak semula, Giyanti sendiri mengaku ingin mondok tetapi memang baru sempat dan terkabul di pondok Gus Romi tersebut. Keluarganya bersama warga Ponorogo sengaja mengikuti program triwulanan.
Giyanti dan keluarga yang lain membawa logistik masing-masing sebagai bekal berupa beras dan lauk pauk. Ia mengaku ingin tenang menjalankan ibadah selama di pondok, termasuk salat berjamaah lima waktu. Selama empat hari di pondok yang dijalankan tidak lain hanya salat, mengaji dan berzikir.
Karena itu, dirinya berniat mondok hingga tiga bulan mendatang sampai Ramadan. "Kalau di rumah, kadang terganggu kesibukan lain," tegasnya.
Gayatri juga mengatakan, kepergiannya menuntut ilmu sepengetahuan keluarganya yang lain. Keluarga Gayatri akan kembali pulang ke rumahnya setelah selesai mondok. Ia juga tidak menjual rumah, karena memang akan pulang setelah Ramadan.
"Ramadanan di sini terus pulang. Saya di sini menuntut ilmu, cuma itu," tegasnya.
Sementara Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin, Muhammad Ramli (Gus Romli) mengatakan di pondok selama ini terbuka untuk umum. Siapa pun dipersilakan untuk datang karena memang bersifat untuk umum.
Kalau malam Jumat kegiatannya majelis salawatan Musa AS untuk umum. Kemudian malam Sabtu, istiqosah dari Maghrib sampai Isyak berisi dzikir.
"Kalau Minggunya toriqot, rata-rata diikuti dari luar kota, kebanyakan. Tapi itu khusus untuk toriqah akmaliyah. Kalau belum berbaiat tidak boleh mendengar karena itu ilmu sirri, ilmu haqiqat," katanya.
Kemudian malam Selasa ngaji tentang akhir zaman, membahas hadis-hadis tentang tanda akhir zaman. Di situ dibahas tentang akhir zaman dengan berbagai referensi dari banyak kitab.
Baca juga:
Terungkap Penyebab Warga Termakan Isu Kiamat di Ponorogo
Heboh Isu Kiamat di Ponorogo, Puluhan Warga Hijrah ke Ponpes di Malang
Mengaku datang dari tahun 6491, pria ini beberkan kehancuran AS di masa depan
6 Kiamat yang terjadi di era prasejarah, untung belum ada manusia
8 Kejadian di masa lalu ini buat Bumi hampir kiamat!
Deretan prediksi kiamat yang bisa terjadi sebentar lagi, percaya?