Bantul Percepat Pemasangan Bronjong Atasi Longsor Sungai Oya Sriharjo
Pemerintah Kabupaten Bantul segera pasang bronjong di tebing Sungai Oya Sriharjo yang longsor. Penanganan Longsor Sungai Oya Bantul ini ditargetkan rampung sebelum 2025, dengan UGM mencari solusi permanen.
Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengambil langkah cepat untuk mengatasi longsor tebing Sungai Oya di wilayah Srikeminut, Kelurahan Sriharjo, Imogiri. Longsor ini terjadi beberapa waktu lalu akibat dampak cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut.
Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Bantul segera memasang bronjong, anyaman kawat besi pengikat batu, sebagai penahan tebing. Pemasangan ini merupakan upaya mitigasi awal untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
Kepala Dinas PUPKP Bantul, Jimmy Alran Manumpak Simbolon, menyatakan bahwa tim sudah melakukan rekayasa aliran sungai. Tujuan rekayasa ini adalah mengarahkan aliran ke tengah sungai agar tidak menghantam langsung tebing yang rentan.
Upaya Penanganan Darurat dan Progres Pengerjaan
Jimmy Alran Manumpak Simbolon menjelaskan bahwa pemasangan bronjong ini menjadi langkah awal penanganan jalan yang terputus. Jalan tersebut rusak akibat tebing Sungai Oya di Sriharjo, Imogiri, yang longsor pada 21 November lalu karena banjir ekstrem.
Saat ini, progres pengerjaan pemasangan bronjong dan rekayasa aliran sungai telah mencapai sekitar 30 hingga 40 persen. "Kemarin kami melakukan pengamanan sungai dan pembentukan rekayasa sungai dan kita susun rapi dulu. Nanti, setelah itu akan dipasang bronjong di tebing," kata Jimmy.
Pihak Dinas PUPKP mengakui adanya hambatan dalam proses pengerjaan di lapangan. Oleh karena itu, mereka berkoordinasi dan meminta masukan dari tim ahli Universitas Gadjah Mada (UGM) serta pihak terkait lainnya untuk mencari solusi terbaik.
Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Mujahid Amrudin, menambahkan bahwa pengerukan sedimentasi bekas longsoran juga sedang berlangsung. Bersamaan dengan itu, proses pemasangan bronjong terus dikebut. "Bersamaan dengan pembuatan jembatan darurat ini, tebing sungai sudah dibronjong. Nanti tanah yang longsor sudah diurug. Target nanti sebelum Natal sudah selesai, sehingga nanti paling tidak warga merasa aman terkait dengan kondisi yang di Srikeminut," ujarnya.
Pencarian Solusi Permanen dan Tantangan ke Depan
Meskipun penanganan darurat terus berjalan, Jimmy Simbolon menegaskan bahwa pemasangan bronjong membutuhkan waktu. Namun, ia memastikan bahwa seluruh pengerjaan penanganan longsor Sungai Oya Bantul ini ditargetkan rampung sebelum akhir tahun 2025.
Penanganan jalan putus dengan cara ditimbun dianggap bukan solusi utama karena sifatnya tidak permanen. "Kalau untuk penanganan jalan putus dengan cara ditimbun itu tidak menjadi utama. Karena, itu kan penanganannya bukan permanen. Jadi, kami koordinasi bersama UGM untuk penanganan permanennya bagaimana," jelas Jimmy.
Instansi terkait masih mencari formulasi penanganan permanen di lokasi tersebut, mengingat kejadian serupa pernah terjadi di tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan urgensi untuk menemukan solusi jangka panjang yang efektif.
Saat ini, terdapat dua opsi penanganan permanen yang sedang dipertimbangkan, meskipun belum ada keputusan pasti. Opsi tersebut meliputi mempertahankan posisi jalan utama atau mengalihkan jalur jembatan ke sisi kaki bukit. "Dan keputusannya tidak secepat itu. Apalagi musim hujan ini belum mencapai puncaknya," imbuhnya.
Pemerintah Kabupaten Bantul terus berupaya memastikan keamanan warga dan infrastruktur di sekitar Sungai Oya. Koordinasi lintas sektor dan konsultasi dengan ahli menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini.
- Pemasangan bronjong sebagai penahan tebing.
- Rekayasa aliran sungai agar tidak menghantam tebing.
- Pengerukan sedimentasi bekas longsoran.
- Koordinasi dengan UGM untuk solusi permanen.
- Pertimbangan dua opsi penanganan permanen: mempertahankan jalan utama atau mengalihkan jembatan.
Sumber: AntaraNews