Balap liar, dirazia atau dipalak polisi?
"Biasanya ada polisi juga yang datang 'ngemale' (minta uang). Kalau udah dikasih uang balapan terus berlanjut."
Aksi balap liar pada malam hari memang sering membuat resah para pengguna jalan. Selain mengganggu, aksi kebut-kebutan ini juga sering memakan korban jiwa.
Meskipun sering dirazia polisi, para anak muda ini tidak pernah jera. Seakan meledek polisi tiap kali dilakukan razia, mereka lalu berpindah-pindah tempat untuk ngebut.
"Sudah sering kami lakukan penertiban. Tapi yah itu mereka lebih pintar. Saat dirazia mereka pindah ke tempat lain. Setelah itu nanti mereka balik lagi ke tempat awal," ujar Kepala Polisi Sektor Kembangan, Kompol Heru Agus, kepada merdeka.com, Kamis (31/5).
Heru menjelaskan, ada beberapa lokasi yang sering dijadikan tempat balap liar di wilayah hukumnya. Lokasi itu antara lain Jalan Kawan Lama, Jalan Baru Taman Aries, Jalan Pesanggrahan dan kawasan perkantoran Puri Indah.
"Biasanya paling sering di Taman Aries. Dan itu dari semua penjuru Jakarta maupun Bogor datang, dan ngumpul di sana," jelasnya.
Sementara itu, menurut Agus, seorang pedagang yang biasa berjualan di Jalan Taman aries, Kembangan, Jakarta Barat, yang kerap dijadikan tempat adu balap liar mengatakan, dalam aksi balap liar itu juga ada beberapa anggota polisi yang suka meminta uang keamanan agar aksi balap liar bisa dilakukan.
"Biasanya ada polisi juga yang datang 'ngemale' (minta uang). Kalau udah dikasih uang balapan terus berlanjut," ujarnya
Agus mengatakan, setiap malam minggu ratusan motor bisa memadati ruas jalan Taman Aries tersebut. Tidak hanya laki-laki, gadis-gadis ABG juga ikut memeriahkan adu balap itu.
"Cewek-cewek juga banyak, kadang juga pada mabok-mabokan. Soalnya kecium bau minuman keras juga," tandasnya.
(mdk/ren)