Apa itu astrofotografi yang bikin NU-Muhammadiyah 'islah'
Memperdebatkan hisab dan rukyat dalam menentukan awal bulan Ramadan dan Syawal seperti tak ada pangkal ujungnya.
Memperdebatkan hisab dan rukyat dalam menentukan awal bulan Ramadan dan Syawal seperti tak ada pangkal ujungnya. Baik Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) mengklaim masing-masing paling benar.
Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriah. Metode ini biasanya digunakan oleh Muhammadiyah dalam menentukan awal bulan Ramadan dan Syawal.
Sedangkan rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah Matahari terbenam. Metode ini biasanya digunakan oleh NU.
Mulai tahun ini sepertinya sudah ada titik temu antara Muhammadiyah dengan NU dalam menentukan awal Ramadan dan Syawal. Apalagi jika masih menggunakan metode lama, penetapan awal Ramadan tahun ini antara Muhammadiyah dan NU kemungkinan berbeda.
Saat ini dikembangkan teknik astrofotografi. Metode ini sepertinya bisa menjadi jembatan 'islah' antara Muhammadiyah dengan NU dalam menentukan awal bulan Ramadan dan Syawal.
"Ini merupakan upaya untuk menyatukan umat Islam di Indonesia. Jadi saya optimis, masalah perbedaan penentuan awal Ramadan dan 1 Syawal tahun ini bisa disatukan," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin usai menghadiri Workshop Festival Astrofotografi di Jatim Expo (JX) Surabaya, Sabtu (26/4) lalu.
Lalu apa sebenarnya astrofotografi itu? Dilansir dari Wikipedia, astrofotografi adalah sebuah jenis khusus dari fotografi yang memerlukan gambar pencatatan objek astronomi dan daerah besar di langit malam.
Foto pertama dari objek astronomi (bulan) diambil pada tahun 1840, tapi tidak sampai akhir abad ke-19 bahwa kemajuan teknologi memungkinkan untuk fotografi bintang yang lebih rinci. Selain mampu merekam secara detail benda seperti Bulan, Matahari, dan planet-planet, astrofotografi memiliki kemampuan untuk merekam objek gambar tidak terlihat oleh mata manusia seperti bintang redup, nebula, dan galaksi.
Hal ini dilakukan oleh paparan lama sejak kedua film dan kamera digital dapat menumpuk dan jumlah foto cahaya selama ini jangka waktu yang lama. Dalam penelitian astronomi profesional, fotografi merevolusi lapangan, dengan eksposur lama merekam ratusan ribu bintang baru dan nebula yang tak terlihat oleh mata manusia, yang mengarah ke teleskop optik khusus dan semakin besar yang pada dasarnya besar "kamera" yang dirancang untuk mengumpulkan cahaya untuk direkam pada film.
"Saya optimis masalah perbedaan yang selama ini terjadi, akan bisa teratasi dengan cara dan atau melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Saya sangat yakin perbedaan umat Islam di Indonesia bisa disatukan," kata Din.
Sementara itu, penggagas metode Astrofotografi sendiri mengatakan, astrofotografi ini mampu dijadikan sebagai solusi penyatuan hisab dan rukyat. Bahkan, Agus sangat yakin, metode yang digagasnya itu bisa memberi hasil yang sama antara metode hisab dan rukyat.
Sebab metodologi astrofotografi ini berdasar Rukyah Qobla Ghurub (RQG). "Sekarang kita coba cermati pada sidang isbat tahun 2010, karena perbedaan pandangan, sidang diwarnai walk out. Kemudian tahun 2012, ada yang tidak hadir. Dan pemandangan yang sama juga terjadi di tahun 2013. Terlepas salah atau benar ternyata sidang isbat sudah tidak mampu lagi menjadi media pemersatu umat," terang penulis buku berjudul: Jangan Asal Ikut-Ikutan Hisab dan Rukyat itu.
Baca juga:
Awal Ramadan, Muhammadiyah-NU siap 'islah' lewat Astrofotografi
Din Syamsuddin desak PKB jadi pimpinan koalisi partai Islam
Di depan pengurus Muhammadiyah, Prabowo sindir Mega dan Jokowi
Prabowo: Kalau NU dan Muhammadiyah mendukung, jadi itu barang
Bantah dukung, Muhammadiyah cuma beri selamat pada Jokowi