LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Antar arwah leluhur, umat Khonghucu di Solo bakar replika kapal

Pada bulan 7 Imlek pintu akhirat dibuka dan para arwah diberikan kesempatan untuk turun ke dunia.

2015-09-06 23:31:00
Kerukunan umat beragama
Advertisement

Umat Khonghucu di Kota Solo, Minggu (6/9) melakukan sembahyang King Hoo Ping di Lithang Makin Solo, Jl. Yap Tjwan Bing Kelurahan Jagalan, Jebres. Sembahyang juga bertepatan dengan bulan 7 penanggalan imlek atau Jit Gwe, yang diartikan pada sebuah sembahyang yang diperuntukkan bagi arwah umum.

Dalam acara sakral tersebut, berbagai sesaji tertata rapi di meja altar yang diletakkan di halaman Lithang. Seperti daging, nasi, jajanan pasar, air putih dan buah-buahan itu disuguhkan sebagai pelengkap prosesi sembahyang King Hoo Ping.

Tak jauh dari sesaji itu, ditancapkan bendera dari kertas warna-warni. Kertas tersebut bertuliskan nama para leluhur yang telah meninggal dunia untuk dibacakan doa. Puluhan umat Khonghucu tampak khusyuk mengikuti prosesi sembahyang King Hoo Ping Bau dupa pun seketika menyeruak di sana.

Menurut, Rohaniawan atau Ketua Makin Solo, Adjie Chandra upacara sembahyang King Hoo Ping atau dikenal sembahyang Rebutan. Umat Khonghucu di wilayah Solo yang tergabung Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin), menggelar sembahyang King Hoo Ping untuk mengenang dan memberi penghormatan kepada para leluhur yang telah meninggal dunia. Sembahyang dimulai pukul 10.30 WIB.

"Sembahyang kita awali dengan sembahyang dan penaikan surat doa dipimpin langsung oleh Rohaniawan Khonghucu Adjie Chandra. Ini untuk mengenang dan memberi penghormatan kepada para leluhur yang telah meninggal dunia," ujarnya.

Setelah didoakan, bendera kemudian dibakar bersama dengan replika kapal yang terbuat dari kertas berukuran besar. Candra mengatakan, replika tersebut sebagai simbol sarana transportasi yang mengantar leluhur ke tempatnya.

"Dalam ajaran kami sembahyang untuk para leluhur dilakukan umat Khonghucu dalam setahun ada tiga kali. Yakni, saat menjelang malam tahun baru Imlek, sembahyang Ching Bing yang jatuh pada 5 April, serta pertengahan atau tanggal 15 bulan 7 Imlek," jelasnya.

Ia menambahkan, pada bulan 7 Imlek pintu akhirat dibuka dan para arwah diberikan kesempatan untuk turun ke dunia. Karena itu untuk menyambut kehadiran mereka pada bulan 7 Imlek, masyarakat Tionghoa diwajibkan melakukan sembahyang pengenangan dan penghormatan bagi leluhur.

"Umat Khonghucu menganggap bulan 7 merupakan bulan khusus untuk persembahyangan. Sesajian makan dan minum yang disediakan untuk arwah, yang pada akhirnya untuk diperebutkan. Pembakaran replika kapal melambangkan sebuah transportasi yang mengantar leluhur ke tempatnya di alamnya," pungkasnya.

Baca juga:
Salut, siswa non Muslim ini payungi temannya yang shalat saat hujan
Datangi markas FPI, PGI bahas toleransi keragaman di Indonesia
Perkuat kerukunan, LDII gelar silaturahmi lintas agama
Vatikan kagum pada toleransi beragama di Indonesia
Imbas Tolikara, Kantor Gereja di Malang didatangi orang tak dikenal



Advertisement
(mdk/ren)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.