Anak tewas dianiaya, nenek miskin ditagih RSUD Moewardi Solo Rp 40 juta
Untuk melunasi biaya rumah sakit, kata Joko, Mbah Paniyem berniat menjual rumah gubuk dan pekarangan yang dimiliki. Padahal, dua hal itu adalah harta satu-satunya yang dimiliki Mbah Paniyem.
Bak sudah jatuh tertimpa tangga, sungguh memilukan beban yang harus ditanggung Mbah Paniyem. Belum kering air mata usai ditinggal mati anaknya, Warmin (35) yang tewas dianiaya, nenek renta berusia 75 tahun juga ditagih Rp 40 juta oleh rumah sakit.
Tagihan itu dikirim RSUD Moewardi Solo yang meminta Mbah Paniyem melunasi seluruh biaya pengobatan mendiang Warmin.
Warmin sendiri meregang nyawa usai dianiaya berat di WC Umum Pasar Colomadu, Selasa (28/8) lalu.
Praktis, kepedihan baru dirasakan nenek asal Dukuh Kacangan, Pagak, Sumberlawang, Sragen ini. Bagaimana tidak, diusia senjanya, Mbah Paniyem harus mendapatkan uang sebesar itu padahal ia sendiri tidak mempunyai penghasilan.
"Iya, barusaja tadi kami dilapori keluarga korban kalau mendapat surat dari RSUD Moewardi Solo kepada orangtua korban," papar Kades Pagak, Joko Purnomo, Senin (3/9).
Dalam surat itu intinya menyampaikan, biaya pengobatan almarhum selama di rumah sakit harus segera dibayar. Padahal, orangtua korban terbilang sudah tua dan kondisinya sangat miskin.
"Tadi orangtua dan keluarga korban datang meminta petunjuk ke kami. Kasihan memang, karena kondisi orangtuanya sudah tua dan bingung dari mana bisa dapat uang Rp 40 juta itu," kata Joko Purnomo.
Jual rumah gubuk, satu-satunya harta Mbah Paniyem
Untuk melunasi biaya rumah sakit, kata Joko, Mbah Paniyem berniat menjual rumah gubuk dan pekarangan yang dimiliki. Padahal, dua hal itu adalah harta satu-satunya yang dimiliki Mbah Paniyem.
Jika dijual, maka Mbah Paniyem dan anaknya yang merupakan adik Warmin tidak akan punya tempat tinggal.
Joko pun mencoba meringankan beban hidup Mbah Paniyem dengan mendorong Pemdes memperoleh keringanan biaya. Malah, kalau perlu dibebaskan saja dari tagihan.
"Kami akan membuat surat ke Bupati. Mudah-mudahan ada kebijakan yang membantu keringanan untuk orangtua korban karena benar-benar ekonominya tidak mampu," katanya.
Warmin ditemukan tewas bersimbah darah di WC UMUM Pasar Colomadu, Karanganyar. Pemuda yang belakangan diketahui juga sebagai petugas kebersihan pasar itu memang diduga tewas akibat penganiayaan berat.
Demikian diungkap Kasat Reskrim Polres Karanganyar, AKP Purbo Adjar Waskito, mewakili Kapolres Karanganyar, AKBP Henik Maryanto, Sabtu (1/9).
Meski belum menemukan penganiaya Warmin, hasil penyelidikan sementara mengarah pada fakta bahwa korban meninggal diduga karena penganiayaan kategori berat. Purbo menceritakan korban meninggal karena luka yang diderita pada bagian kepala. Tepatnya, bagian kepala antara dahi dan hidung.
Baca juga:
PSI sindir Sandiaga terkait tudingan BPS diatur pemerintah
Di Beringharjo, Sandiaga dicurhati pembeli cuma mampu beli lele buat anak
Sandiaga Uno: Rakyat rasakan beban hidup makin berat
Akhir 2018 ditargetkan 10 juta keluarga tidak mampu di Indonesia dapat BPNT
B Corp ajak pengusaha gotong royong bangun ekonomi Indonesia
Dana desa naik jadi Rp 70 triliun, angka kemiskinan diklaim bakal terus turun