Alat deteksi tsunami di Sulteng rusak karena vandalisme
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo menyayangkan, atas tak berfungsinya alat deteksi tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng). Menurut Sutopo, sejak 2012 silam alat deteksi tersebut sudah rusak.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo menyayangkan, atas tak berfungsinya alat deteksi tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng). Menurut Sutopo, sejak 2012 silam alat deteksi tersebut sudah rusak.
"Untuk mengukur parameter rusak, silakan berkoordinasi ke Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT). Tanyakan ke mereka. Bukan BMKG dan BNPB," kata Sutopo di Kantor BNPB Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Senin (1/10).
Rusaknya alat itu dinilai Sutopo karena ulah masyarakat yang berperilaku vandalisme.
"Kenapa rusak? Banyak mengalami vandalism seperti sensor diambil, lampu kedap kedip diambil. Buat tambatan kapal. Biaya maintenance berkurang. Sejak 2012 rusak," katanya.
Meskipun alat deteksi rusak, Early warning sistem tsunami tetap ada. Tanpa alat pendeteksi tsunami, lanjut Sutopo, peringatan tsunami tetap berjalan.
Lebih lanjut, Sutopo mengatakan, setiap stakeholder mempunyai ukuran masing-masing atas akan adanya tsunami.
"Berdasarkan parameter, begitu gempa terjadi di atas 7 SR kedalaman 2 km, di zona seduksi lalu kami disampaikan ke publik. Tapi BMKG juga punya ukurannya, kapan waktunya, daerah terdampak serta lokasi gempanya di mana," pungkasnya.
Baca juga:
Kementerian Sosial kirim 6 mobil dapur umum ke Palu dan Donggala
Menko Polhukam ungkap bantuan-bantuan yang dibutuhkan dari negara asing
Rawan penjarahan, 17 truk angkut logistik asal Kaltim tertahan di pelabuhan Palu
18 Negara siap bantu korban bencana Palu dan Donggala
Menhub Budi: Garuda Indonesia dan Wings Air sudah mendarat di Palu hari ini
Tak bisa dipulangkan, Brigadir Sukamiarta dikubur massal di Palu