LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Alasan warga tolak tambang pasir di Lumajang sampai Kancil dibunuh

Tosan dikeroyok, Kancil dibunuh karena menolak penambangan pasir.

2015-09-30 09:04:00
Salim Kancil - Tosan
Advertisement

Warga Desa Selok Awar-awar, Abdul Hamid sudah memendam kesal jauh hari pada aktivitas penambangan pasir di Pesisir Watu Pecak, Lumajang, Jawa Timur. Lalu lalang truk besar muatan pasir kerap mengganggu aktivitas warga.

"Jalan kan milik masyarakat umum, kalau sudah bawa pasir itu nguasai jalan. Truk pasir ini malah milih jalan yang bagus. Kalau ada warga lewat disuruh minggir, dia lewat jalan yang bagus," kata Hamid di Desa Selok Awar-awar, Pasiran, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (29/10).

Selain itu, seorang warga pemilik sawah, Nadi (50) mengaku rugi karena sawahnya rusak akibat penambangan pasir di Pesisir Watu Pecak. ‎Saat ini hasil taninya hancur akibat terendam air asin laut. Mengalirnya air asin laut tersebut karena adanya aktivitas penambangan pasir.

"Sawah saya habis lima petak. Sekitar satu hektar," keluh Nadi sembari menunjuk lokasi petak sawahnya yang sudah tergenang air laut.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nadi akhirnya bekerja sebagai kuli tanaman tebu. Dia hanya mendapat 20 ribu sehari dari hasil kerja tersebut. Selain Nadi masih banyak warga lain yang sawahnya ikut rusak. Namun tak banyak warga yang berani mengungkapkan hal tersebut.

Menurut pantauan merdeka.com, saat ini sudah tak terlihat proses penambangan pasir di Pesisir Watu Pecak. Jalan utama desa yang beraspal dengan lebar sekitar dua meter tak dilewati truk pengangkut pasir seperti biasanya.

Terlihat di beberapa jalan ada tumpukan pasir yang dibiarkan menggunung menutup separuh badan jalan. Menurut seorang warga, Turiman (35) pasir tersebut ada karena para warga meminta truk untuk berhenti melakukan aktivitas tambang. Akhirnya muatan truk dibuang di jalanan.

Sedangkan di lokasi penambangan pasir tersebut terlihat banjir sebagian. Selain jalanan yang biasa dilewati truk dan eksavator‎ dialiri air, sawar warga pun rusak. Turiman menjelaskan, biasanya meskipun kondisi sebagian lokasi penambangan tergenang air pasang laut, aktivitas penambangan tetap berlanjut.

"Biasanya meskipun air laut pasang gini, para penambang tetap kerja," ungkapnya.

‎Di lokasi penambangan juga terdapat banner berisi foto Tim 12. Menurut warga tim tersebutlah yang menjadi penjagal para aktivis anti tambang, Tosan dan Salim Kancil. Sebelumnya tim itu kerap melakukan teror terhadap warga. Tim tersebut juga diserahi oleh aparatur desa untuk mengelola aset tambang pasir Pesisir Waktu Pecak.

Awalnya memang warga sepakat dengan janji Tim 12 melalui Kepala Desa Selok Awar-awar untuk membangun Pesisir Watu Pecak sebagai kawasan wisata. Namun warga heran mengapa sejauh ini yang digali justru pasirnya saja. Lantas menurut warga slogan menjadikan kawasan wisata tersebut hanya kedok agar bisa mengeruk pasir di wilayah itu.

"‎Masyarakat menyetujui karena untuk wisata. Kolam renang, pemandian. Karena lebih 7 meter, kan gak masuk akal kolam kedalaman segitu, orang kan takut. Kenyataannya tak sesuai dengan wisata. Ternyata bukan wisata. Malah pasirnya diambil. Kurang lebih sudah 2 tahun," kata saudara Tosan yang menjadi korban kekerasan penjagal, Madris.(mdk/rnd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.