Akhir tragis Ordzhonikidze, armada Rusia di Indonesia
Berita Indonesia cepat, aktual, serius, unik, dan baru: Nasib Ordzhonikidze tidak segagah saat kapal ini pertama kali da
Ordzhonikidze merupakan sebuah kapal penjelajah kelas Sverdlov (Project 68-bis). Panjangnya 210 meter dengan lebar 22 m. Bobot kapal mencapai 13.600 ton. Kapal ini termasuk canggih pada masanya. Kapal ini dibeli Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) tahun 1962. Rencananya kapal terbesar di belahan bumi bagian selatan ini akan digunakan untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda. Oleh ALRI Ordzhonikidze diberi nama KRI Irian.
Namun hingga akhir konfrontasi, KRI Irian tak pernah terlibat pertempuran dengan kapal-kapal Belanda. Kapal ini justru bolak-balik masuk dok untuk menjalani perawatan. Suhu di perairan tropis terlalu panas untuk Ordzhonikidze yang biasa beroperasi di perairan Baltik yang bersuhu beku.
Tahun 1965, angin politik berbalik. Soeharto yang menggantikan Soekarno kurang tertarik membangun kekuatan di laut. Soeharto pun enggan meneruskan hubungan dengan Rusia yang komunis. Akibatnya sejumlah pesawat tempur dan kapal perang made in Russia pun terbengkalai. Kurang perawatan dan suku cadang.
KRI Irian yang dibeli dengan harga mahal dan canggih juga terkena imbas angin politik itu. Kondisinya terus memburuk tanpa ada yang peduli.
Ada beberapa versi akhir KRI Irian. Versi pertama menyebutkan saat kapal sudah sedemikian hancur, KSAL Laksamana Sudomo membawanya ke Taiwan. Kemudian kapal ini pun dihancurkan menjadi besi tua.
Versi wartawan senior Hendro Subroto, kapal perang ini dijual di Jepang setelah persenjataannya dipreteli. Hendro menyebut sebenarnya KRI Irian tidak kekurangan suku cadang. Hanya saja tidak ada teknisi yang bisa merawat dan memperbaiki KRI Irian setelah peristiwa Gestapu tahun 1965. Semua teknisi Rusia sudah dipulangkan ke negaranya. Hubungan dengan negara-negara blok Soviet juga sudah memburuk.
Versi ketiga, saat akan dibesituakan, KRI Irian dicegat oleh sejumlah kapal dari Uni Soviet. Kapal ini diambil alih oleh Soviet karena tidak ingin rahasia kapal penjelajah miliknya jatuh ke tangan Blok Barat.
Tidak jelas versi mana yang benar. Yang pasti akhir nasib Ordzhonikidze pasti tidak segagah saat kapal ini pertama kali datang dan dielu-elukan di Pelabuhan Surabaya tahun 1962.(mdk/ian)