AJI Makassar-UNICEF Perkuat Peran Jurnalis dalam Imunisasi untuk Tangkal Hoaks
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar dan UNICEF berkolaborasi memperkuat peran jurnalis di Makassar melalui workshop "Penguatan Program Imunisasi" guna menghasilkan pemberitaan akurat, menangkal hoaks, dan meningkatkan pemahaman masyarakat.
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar bersama United Nations Children's Fund (UNICEF) Indonesia telah mengambil langkah strategis. Keduanya berkolaborasi untuk memperkuat peran jurnalis di Makassar melalui sebuah workshop intensif.
Workshop ini, yang mengusung tema "Media Kuat, Imunisasi Meningkat: Lawan Hoax, Sebarkan Informasi Akurat", bertujuan utama untuk membekali jurnalis. Tujuannya agar mereka mampu menghasilkan pemberitaan yang akurat seputar program imunisasi, sekaligus efektif dalam menangkal informasi hoaks yang beredar di masyarakat.
Kegiatan penting ini melibatkan sekitar 40 jurnalis dari berbagai platform media di Makassar, Sulawesi Selatan. Pertemuan tersebut diselenggarakan pada hari Sabtu, 30 November, menandai komitmen bersama dalam mendukung kesehatan publik melalui jurnalisme yang bertanggung jawab dan informatif.
Pentingnya Pemberitaan Imunisasi yang Akurat
Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Wilayah Sulawesi Selatan dan Maluku, Henky Widjaja, menegaskan pentingnya peran media. Menurutnya, media perlu menganalisis dan menyampaikan persoalan imunisasi dengan bahasa yang ringan. Hal ini bertujuan agar informasi tersebut mudah dipahami dan mampu mengedukasi masyarakat secara luas.
Henky menekankan bahwa, "Bagaimana media menulis dengan bahasa sederhana, tapi akurat, kredibel dan tidak menyesatkan." Pernyataan ini menyoroti standar tinggi yang diharapkan dari pemberitaan imunisasi. Selain itu, ia juga menilai media berperan sebagai sarana advokasi dalam imunisasi. Khususnya dalam "push vektor pressure" ke pemerintah terhadap berbagai upaya dan kebijakan terkait program kesehatan ini.
Lebih lanjut, Henky mengingatkan para jurnalis untuk selalu memilih narasumber yang memiliki kapasitas. Ini sangat krusial dalam menjawab berbagai permasalahan terkait imunisasi, termasuk Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). "Ada Komda KIPI, jangan sampai ada kasus yang ditanya tidak punya kompetensi di bidang medis," tegasnya, menekankan pentingnya validitas informasi.
Mengatasi Minimnya Liputan dan Hoaks Imunisasi
Ketua AJI Makassar, Didit Hariyadi, mengungkapkan bahwa pertemuan ini merupakan upaya signifikan. Ini adalah dorongan untuk peningkatan kapasitas jurnalis, serta memperkuat peran media dalam mendukung permintaan imunisasi. Caranya adalah melalui penyebaran informasi yang akurat, kredibel, dan berbasis data, serta membangun narasi publik yang positif.
Didit menyoroti bahwa isu kesehatan, khususnya program imunisasi, seringkali minim mendapatkan perhatian di media arus utama. Ia berpendapat bahwa isu tersebut dianggap kurang menarik dibandingkan topik-topik sosial lainnya, seperti korupsi atau politik. Akibatnya, liputan mengenai imunisasi cenderung baru ramai ketika terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) dari pelaksanaannya.
"Liputan mengenai imunisasi dan vaksin baru ramai ketika ada kasus. Misalnya, bayi meninggal dunia setelah divaksin atau cairan vaksin dianggap haram karena diduga mengandung babi," ujar Didit. Fenomena ini menunjukkan bahwa berita imunisasi seringkali didominasi oleh narasi negatif. Oleh karena itu, peran jurnalis sangat penting untuk membangun pemahaman yang benar, terutama di daerah dengan akses informasi yang masih terbatas.
Kolaborasi dan Materi Workshop Komprehensif
Didit Hariyadi juga menyampaikan bahwa kolaborasi antara UNICEF dan AJI Makassar telah berlangsung cukup lama. Kerja sama ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam kepada jurnalis. Terutama terkait proses peliputan di lapangan saat meliput isu-isu kesehatan yang kompleks seperti imunisasi.
Workshop ini menghadirkan sejumlah pemateri ahli yang kompeten di bidangnya. Sesi pertama diisi dengan materi mengenai situasi capaian imunisasi di Sulawesi Selatan, yang disampaikan oleh perwakilan Dinas Kesehatan Sulsel. Selain itu, ada materi tentang PDV, keamanan imunisasi, dan vaksin HPV yang dipresentasikan oleh perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sulsel.
Pada sesi kedua, peserta mendapatkan pencerahan dari Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, KH Syamsul Bahri Abd Hamid, yang membahas isu halal dan haram terkait vaksin imunisasi. Kemudian, Ketua Komite Daerah KIPI Sulawesi Selatan, dr. Ema Alasiry, SpA(K), memberikan materi penting mengenai pemahaman Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), melengkapi wawasan para jurnalis.
Sumber: AntaraNews