Ahok manfaatkan aplikasi 'mata saksi' buat awasi saksi di TPS
Ahok manfaatkan aplikasi 'mata saksi' buat awasi saksi di TPS. Aplikasi mata saksi dapat mengetahui berapa jumlah saksi yang sudah berada di tempat pemungutan suara (TPS). Tujuannya untuk menghindari adanya kekosongan saksi saat pemungutan suara pesta demokrasi.
Tim Pemenangan pasangan calon nomor urut dua Pilkada DKI 2017 Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat menggunakan teknologi dalam pengawasan saat pencoblosan putaran kedua. Mereka memutuskan memakai aplikasi mata saksi untuk mengawasi saksi yang berada di Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada 19 April 2017 mendatang.
Juru bicara tim pemenangan Basuki-Djarot, Putu Artha mengatakan, aplikasi mata saksi dapat mengetahui berapa jumlah saksi yang sudah berada di tempat pemungutan suara (TPS). Tujuannya untuk menghindari adanya kekosongan saksi saat pemungutan suara pesta demokrasi.
"Misal 99 persen sudah masuk TPS, nah yang satu persen dimana saja posisinya. Kami bisa tahu, tinggal klik itu, ketemu nanti saksi di TPS mana yang belum masuk," katanya saat dihubungi di Jakarta, Senin (3/4).
Dia mengungkapkan, nantinya saksi-saksi yang berada di kelurahan akan langsung terhubung dengan aplikasi tersebut. Namun, aplikasi itu hanya diperuntukkan bagi internal tim pemenangan pasangan petahana itu untuk meminimalisasi potensi kecurangan.
"Kami pastikan seluruh peristiwa di TPS itu terekam dengan sangat sempurna. Dan seluruh saksi nanti 26 ribu akan bergerak, kami akan bikin hall 44 kecamatan. Termasuk nanti di Kepulauan Seribu kami angkut semua," tutup Putu.
Selain itu, mereka juga akan menggelar pelatihan kepada para relawan yang tinggal di Apartemen. Sehingga nantinya mereka dapat menjadi saksi pada saat pencoblosan pada 19 April 2017 mendatang.
"Hari ini, kami ada kelompok kelas saksi apartemen, jadi mereka yang jadi saksi itu paraAhokers bukan dari partai, jadi kan mereka yang tinggal di Apartemen kayak Pluit tempatnya Ahok, ga mungkin mereka yang tinggal di pinggiran situ yang ditaruh, jadi itu sangat spesifik," katanya.
Walaupun begitu, dia mengaku, belum mengetahui secara pasti berapa banyak relawan yang akan diberi pelatihan. Namun, nantinya mereka akan disebarkan di 31 titik yang memiliki potensi kecurangan paling rawan pada putaran kedua Pilkada DKI 2017 ini.
"Belum tahu, belum kami data, tapi yang pasti ada 31 titik," jelasnya.
Putu menjelaskan, adanya pemberdayaan ini karena TPS di apartemen memiliki potensi masalah yang sangat besar. Seperti banyaknya pemilih eksklusif, sehingga harus warga apartemen sendiri yang menghadapinya.
"Apartemen punya potensi masalah, karena pengenalan saksi terhadap karakteristik di situ rendah, kamu kalau enggak tinggal di apartemen enggak ngerti toh. Jadi hanya orang yang mengetahui karakteristik. Kami kan melakukan pemetaan," tutupnya.