Ahli kubu Jessica sebut teknik modifikasi ahli JPU primitif
Sebab teknik tampering yang dilakukan ahli dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) mereduksi dimensi frame menjadi lebih kecil.
Ahli digital forensik yang dihadirkan tim penasihat hukum Jessica Kumala Wongso, Rismon Hasiholan Sianipar, menilai modifikasi barang bukti rekaman CCTV Kafe Olivier dilakukan dengan teknik primitif. Sebab teknik tampering yang dilakukan ahli dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) mereduksi dimensi frame menjadi lebih kecil.
"Teknik tampering-nya paling primitif, mereduksi dimensi frame menjadi lebih kecil sehingga kabur," kata Rismon dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (15/9).
Tampering juga dilakukan dengan mengurangi laju frame. Sehingga kata dia, ada frame-frame yang hilang dan membuat gambar menjadi janggal saat dianalisis frame demi frame.
"Normalnya satu detik ada 25 gambar. Maka dengan laju seperti ini (pengurangan laju frame), hanya ada 10 gambar saja per detik. Artinya, 15 frame hilang," paparnya.
Akibat modifikasi yang dilakukan secara primitif, maka hal itu jadi sangat mudah untuk dideteksi.
"Ini tekniknya primitif, gampang dideteksi. Dengan frame per frame, abnormalitas bisa dianalisis dengan lebih detail," ujarnya.
Dari hasil analisisnya, Rismon mengatakan, dugaan modifikasi terhadap bukti rekaman CCTV sangat besar.
"Menurut keilmuan saya, indikasi direkayasa sangat kuat," tutupnya.
Baca juga:
Roy Suryo sebut keterangan saksi kubu Jessica banyak kesalahan
Kuku Jessica seperti nenek lampir, ahli duga CCTV telah diedit
Ahli Kubu Jessica sebut gerakan menggaruk hasil rekayasa
Ahli kubu Jessica ungkap perbedaan ukuran file CCTV Kafe Olivier
Ahli digital forensik kubu Jessica tuding JPU rekayasa rekaman CCTV
Permasalahkan laptop ahli kubu Jessica, JPU berdebat dengan Otto
Kemarin sidang Jessica sampai malam, hari ini molor 4 jam