Abdullah Azwar Anas: Banyuwangi tak butuh Superman
Tak cuma sibuk mengurusi festival, Banyuwangi juga terus berbenah dalam berbagai bidang. Sejumlah strategi dilakukan untuk membudayakan inovasi di lingkungan birokrasi. Langkah ini dilakukan agar inovasi terbudayakan dan tersistem secara berkelanjutan.
Banyuwangi terus menorehkan prestasi. Dahulu kota ini terkenal dengan kota santet, namun kini telah menjelma menjadi kota festival yang tiap tahun menyelenggarakan tak kurang dari 50 festival. Sesuai dengan namanya, Banyuwangi pun kian harum baik di tingkat nasional maupun internasional.
Tak cuma sibuk mengurusi festival, Banyuwangi juga terus berbenah dalam berbagai bidang. Sejumlah strategi dilakukan untuk membudayakan inovasi di lingkungan birokrasi. Langkah ini dilakukan agar inovasi terbudayakan dan tersistem secara berkelanjutan.
"Birokrasi ini kunci program pembangunan. Tidak bisa kita one man show. Banyuwangi tidak butuh superman, tapi Banyuwangi butuh superteam," kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat berbincang-bincang dengan merdeka.com di ruang kerjanya, Selasa (18/1).
"Ke depan pekerjaan kita banyak. Persoalan sosial muncul, sosial ekonomi, rakyat harapannya terus membaik. Ini kalau tidak ditangani dengan tim kita akan banyak masalah," lanjut Anas.
Anas berujar, pekerjaan membenahi daerah harus membutuhkan dukungan banyak pihak, tak sekadar menggantungkan pada kepala daerah seorang diri.
"Jika one man show, pasti akan dehidrasi di tengah jalan. Ini karena pekerjaan membenahi daerah bukan seperti lari sprint alias adu cepat, tapi lari marathon alias adu ketahanan. Sehingga butuh kerja sama banyak pihak, butuh perubahan birokrasi, bukan sekadar aksi kepala daerah seorang diri," imbuh mantan anggta DPR RI tersebut.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas ©istimewa
Menurut Anas, inovasi harus terlembagakan agar siapa pun pimpinannya atau siapa pun kepala daerahnya, inovasi terus berlangsung. Salah satu strategi yang ditempuh Anas adalah melibatkan seluruh jajaran di satuan kerja perangkat daerah (SKPD) atau dinas-dinas untuk membahas program dan target secara bersama-sama. Dia mencontohkan, pada 4-6 Januari lalu, dia mengumpulkan birokrasi berdasarkan kluster penugasan untuk mengikuti rapat koordinasi.
"Misalnya, rapat koordinasi bidang kesehatan melibatkan Dinas Kesehatan, RSUD, Puskesmas, dan Dinas Sosial. Tidak hanya kepala dinas atau direktur RSUD, jajaran kepala bidang dan kepala seksi pun dilibatkan, tentu dengan menyesuaikan waktu pelayanan kepada publik," imbuh Anas.
Anas mengatakan, pelibatan semua jajaran hingga level staf di bawah dilakukan sebagai bagian dari pembudayaan inovasi. Setelah rapat koordinasi, semua target ditandatangani bersama dengan waktu yang terukur. Langkah itu dilakukan untuk menyelaraskan gelombang menghadapi tantangan yang semakin dinamis.
"Semua kepala seksi dan kepala bidang ikut presentasi, artinya dia memahami programnya. Jadi inovasi tidak bergantung siapa kepala dinasnya atau siapa bupatinya, tapi inovasi memang sudah jadi kewajiban untuk meningkatkan kinerja birokrasi," papar Anas.
Dengan memberi ruang inovasi hingga ke level staf di bawah, Anas berharap, reformasi birokrasi bisa berjalan berkelanjutan. Tidak hanya sesaat berdasarkan siapa yang jadi pimpinan atau kepala daerah. "Dan terbukti ini efektif. Staf di bawah senang sekali bisa membahas program dan target bersama kepala daerah. Ini memacu semangat mereka. Mereka berlomba-lomba berinovasi," terang Anas.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas ©istimewa
Anas mencontohkan efektivitas dari pelibatan semua jajaran birokrasi. Dalam dua tahun terakhir, jajaran SKPD, kecamatan, hingga desa seakan berkompetisi dalam inovasi. WhatsApp Anas tiap hari dikirimi laporan program inovasi yang dijalankan.
"Semua jajaran bersaing, tapi bersaing dalam konteks yang bagus, yaitu inovasi. Sebagai contoh, hasil rakor kesehatan kemarin menekankan inovasi Puskesmas membikin
gerakan jemput bola ke orang tua untuk dipantau kesehatannya, hari ini sudah dijalankan. Beberapa puskesmas langsung kirim foto, misalnya Puskesmas Pembantu di Kecamatan Genteng," papar Anas.
Contoh lainnya, sambung Anas, adalah Puskesmas yang berlomba-lomba membikin inovasi, bahkan di antaranya sudah diakui hingga level pemerintah pusat. "Ada Puskesmas Singotrunan yang bikin inovasi peningkatan gizi, Puskesmas Sempu bikin gerakan hingga berhasil mewujudkan zero kematian ibu/bayi, Puskesmas Tampo bikin inovasi peningkatan kualitas sanitasi, dan sebagainya. Demikian pula Dinas PU Bina Marga bikin Satgas Jalan Berlubang, Dinas Pertanian inovasi irigasi hemat air untuk cabai, dan sebagainya. Ini iklim budaya inovasi yang baik," tutur Anas.
Baca juga:
Bupati Banyuwangi: Jangan uang tapi kirim orang hebat ke desa kami
Layanan publik online Polres Banyuwangi bikin KemenPAN RB kepincut
Inovasi pengelolaan keuangan Banyuwangi direplikasi secara nasional
Menjelajahi landscape keindahan Taman Nasional Alas Purwo
Pesona TN Alas Purwo: Saat keindahan alam, mitos & mistis jadi satu