9 Kartini Kendeng 'nyelameti' Jokowi di depan Istana
Hadiah istimewa tersebut diberikan Kartini Kendeng karena hari ini bertepatan dengan hari lahirnya Presiden Joko Widodo.
Warga Pegunungan Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang menolak pembangunan pabrik semen di daerahnya mendatangi Istana Negara, Jakarta, Selasa (21/6) sore. Kedatangan Sembilan Kartini Kendeng tersebut guna memanjatkan puji syukur untuk keselamatan dan keberkahan Presiden Joko Widodo.
Hadiah istimewa tersebut diberikan Kartini Kendeng karena hari ini bertepatan dengan hari lahirnya Presiden Joko Widodo.
"Suara nurani kami telah kami amanatkan kepada Pak Joko Widodo. Kami sadar bahwa untuk mewujudkan cita-cita mulia negeri ini tidak boleh hanya menggantungkan pada pemimpin saja. Peran rakyat sangatlah besar untuk menentukan keberhasilan atau tidaknya pembangunan suatu bangsa. Sebagai petani, kami tidak mau berpangku tangan", kata Sukinah salah satu Kartini Kendeng di depan Istana Negara, Selasa (21/6).
"Dengan sekuat tenaga, berbekal cinta tulus pada Indonesia dan doa yang terus menerus kami lantunkan, kami bertekad untuk terus mewujudkan Indonesia menuju tercapainya kedaulatan pangan Nusantara", lanjut Sukinah.
Sukinah menyatakan Indonesia sebagai negara yang berbasis agraris dan maritim dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah sudah selayaknya harus mengedepankan upaya-upaya untuk tercapainya swasembada pangan.
Sukinah berharap bahwa semua kebijakan pembangunan, baik pusat maupun daerah, tidak meninggalkan dan berbenturan dengan cita-cita mulia Presiden Joko Widodo untuk membuat Indonesia berdaulat dalam pangan.
Ketika kebijakan pemerintah sudah tidak sesuai dengan cita-cita bersama, lanjut dia, maka tugas rakyat adalah mengingatkan.
"Biarlah yang sawah tetap menjadi sawah, yang gunung tetaplah kokoh berdiri dan kekayaan sumber daya alam terkelola dengan sebaik-baiknya untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia," ujarnya.
Sementara, Gunretno dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) menyampaikan bahwa selamatan dan doa di Depan Istana Negara yang dilakukan oleh Kartini Kendeng bersama JM-PPK adalah bentuk keprihatinan sekaligus untuk mendoakan sedulur di Jawa Tengah yang menjadi korban bencana alam longsor dan banjir akhir-akhir ini.
"Sebagai rakyat kami sudah sering mengingatkan Pak Jokowi baik dalam setiap pertemuan maupun aksi damai, bahwa Jawa Tengah merupakan daerah yang rentan bencana. Ketika musim kemarau mengalami kekeringan, ketika musim hujan dilanda banjir dan tanah longsor," katanya.
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada hari Senin 20 Juni 2016, tercatat warga di Jawa Tengah menjadi korban bencana banjir dan tanah longsor, total 47 orang meninggal dan 15 orang hilang.
"Tentu saja bencana hadir bukan karena kebetulan, namun karena alam marah ketika keseimbangan ekosistemnya dirusak manusia. Pertambangan menjadi salah satu faktor yang merusak ekosistem tersebut," kata Gunretno.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Jawa Tengah, tanaman padi yang terkena dampak banjir seluas 11.506,5 Hektare. Hal ini mengakibatkan petani mengalami kerugian akibat bencana tersebut. Mereka juga belum tahu adakah jaminan dan perlindungan terhadap tanaman mereka yang rusak, bahkan sampai tanaman mereka hilang karena terseret arus banjir.
"Doa dan selamatan ini adalah upaya kami untuk mengingatkan Pak Jokowi agar memperhatikan risiko bencana dari tambang. Bencana alam adalah peringatan keras kepada manusia untuk segera berbenah. Berbenah dalam memperlakukan alam dengan bijak," ujar Gunretno.
Di hari ulang tahunnya, Presiden Jokowi diajak untuk lebih memperhatikan keseimbangan alam. "Cukup sudah sedulur kami, para petani menjadi korban bencana alam yang diakibatkan keserakahan manusia. Mari kita mewujudkan Indonesia yang berkedaulatan pangan, Indonesia yang lestari dan berperikemanusian," katanya.
(mdk/dan)