LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

72 Pelajar SMA Negeri 10 Bekasi 'dibuang' sampai tak diajar guru

72 Pelajar SMA Negeri 10 Bekasi 'dibuang' sampai tak diajar guru. Sebab, jika 72 pelajar ditampung maka setiap kelas akan terdapat 42-43 siswa sedangkan sekolah hanya mempunyai 10 ruang kelas.

2017-08-08 20:10:06
Pendidikan
Advertisement

72 Pelajar di SMA Negeri 10 Kota Bekasi, di Kecamatan Medansatria, tidak bisa ikut proses belajar mengajar di sekolah tersebut. Alasannya pihak sekolah tidak mengakomodir mereka meskipun diterima melalui jalur zonasi.

Berdasarkan informasi dihimpun merdeka.com, 72 pelajar tersebut awalnya diterima melalui jalur zonasi yang difasilitasi oleh Pemerintah Kota Bekasi meskipun kewenangan sekolah SMA/SMK di tangan Provinsi Jawa Barat. Namun, ketika proses belajar mengajar, mendadak ke-72 pelajar tersebut 'dibuang' untuk menumpang belajar ke SMK Yaperti karena tak terdaftar di dalam Data Pokok Pendidik (Dapodik) sekolah.

Sebab, jumlah kuota yang telah ditetapkan oleh provinsi sebanyak 360 siswa dengan jumlah ruang kelas 10 unit. "Kami mengikuti kebijakan dari Provinsi setiap kelas 36 siswa," kata staf di SMA Negeri 10, Eko Ariyanto, Selasa, (8/8).

Pihak sekolah khawatir jika melanggar ketentuan dari Provinsi tidak mendapatkan dana bantuan operasional baik dari provinsi maupun dari pemerintah pusat. Sebab, jika 72 pelajar ditampung maka setiap kelas akan terdapat 42-43 siswa sedangkan sekolah hanya mempunyai 10 ruang kelas.

Orangtua siswa, Fani Plonto (46) mengaku terkejut mendadak anaknya dipindahkan ke SMA Yaperti yang berjarak sekitar 500 meter dari SMA 10 Kota Bekasi pada awal kegiatan belajar mengajar pada 24 Juli lalu. "Padahal sudah diterima melalui jalur zonasi yang difasilitasi oleh Pemkot Bekasi," kata Fani saat dihubungi.

Bahkan, Fani telah membayar biaya atribut sekolah senilai Rp 400 ribu. Sayangnya, ketika awal kegiatan belajar mengajar mendadak dipindah ke SMA Yaperti.

"Besoknya, semua guru yang mengajar ditarik oleh pihak sekolah. Jadi sampai sekarang tidak ada kegiatan belajar mengajar untuk 72 pelajar itu," katanya.

(mdk/eko)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.