LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

5 Cerita parahnya banjir Pantura

Hingga sampai saat ini sebanyak 12 kecamatan di Subang, Pantura, masih terendam banjir.

2014-01-21 07:01:00
Banjir Pantura
Advertisement

Banjir yang melanda di kawasan jalur Pantura sejak tiga hari lalu belum berangsur surut. Akibatnya, aktivitas masyarakat setempat lumpuh total.

Hingga sampai saat ini sebanyak 12 kecamatan di Subang, Pantura, masih terendam banjir dengan ketinggian air beragam mulai dari 50 sentimeter hingga 1,5 meter, sehingga ribuan warga telah diungsikan. Tidak hanya itu, akibat banjir jalan-jalan dari Pantura menuju ke arah Jawa Tengah juga berlubang.

Di balik banjir kawasan Pantura, banyak sebagian masyarakat dirugikan akibat banjir tersebut. Berikut 5 cerita parahnya banjir di Pantura:

Arus lalu lintas di jalur Pantura Subang terputus

Banjir yang melanda kawasan Kabupaten Subang Jawa Barat, Pantura, membuat arus lalu lintas di jalur Pantura Subang terputus, karena genangan air di perbatasan Pamanukan-Pusakajaya mencapai satu meter.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar mencatat 12 kecamatan yang tergenang seperti di wilayah Pagaden, Cipunagara, Compreng, Pusakajaya, Pusakanegara, Legon Kulon, Pamanukan, Binong, Tambakdahan, Blanakan, Ciasem dan Pabuaran terendam banjir.

Menurut Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jabar Dadang Ronda ketinggian air di setiap wilayahnya berbeda. "Ada yang satu 50 sentimeter hingga 1,5 meter, sedangkan di jalur Pantura (Subang) ketinggian bisa sampai satu meter," katanya kepada merdeka.com, Senin (20/1).

Dia berharap kondisi ini bisa terjadi hingga air benar-benar surut. Pasalnya jika hujan terjadi apalagi dengan curah yang tinggi genangan sulit untuk terbuang karena berada di dataran rendah.

Menurutnya air yang menggenangi wilayah Subang dan sekitarnya disebabkan meluapnya aliran sungai Cipunagara, Cigadung dan Ciasem

BPBD mengakui sulit mengantisipasi banjir terkecuali mengungsikan warga dan menjamin pasokan makanan dan kebutuhan warga yang rumahnya terendam.

Advertisement

Topik pilihan: Jalan Rusak | Jalur Pantura

Pengendara terjebak macet selama 35 jam

Para pengendara dan penumpang bus yang melintasi jalur Pantura Subang-Indramayu, Jawa Barat, terjebak macet selama sekitar 35 jam atau dua hari dua malam akibat banjir yang melanda jalur tersebut.

"Saya sudah berada di bus selama dua hari dua malam akibat macet di jalur Pantura ini, tetapi belum juga lancar," kata Sunaryo, seorang penumpang bus yang mengaku dari Purworejo menuju Depok, Senin (20/1).

Dia mengatakan, kemacetan sudah terasa sejak bus yang dinaikinya memasuki jalur Pantura wilayah Indramayu, dan kemacetan terus terjadi hingga memasuki jalur Pantura wilayah Subang.

Dia mengaku lelah dan bosan atas peristiwa kemacetan tersebut. Selain itu, kemacetan juga cukup menguras saku karena harus bertahan di dalam bus selama dua hari dua malam.

"Bekal uang saku sudah hampir habis, karena harus bertahan dalam bus dalam waktu lama karena kejebak macet," kata dia.

Advertisement

Topik pilihan: Jalan Rusak | Jalur Pantura

Banjir Pantura membuat ratusan hektare sawah rusak

Hujan deras dalam beberapa hari ini, membuat rusaknya ratusan hektar tanaman padi di kawasan jalur pantai utara (Pantura) ruas Pekalongan-Semarang, Jawa Tengah.

Salah satunya, petani Desa Tegal Lontar, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan, bernama Edi mengatakan kerusakan benih akibat banjir kali ini merupakan yang kedua setelah pada Desember 2013 juga mengalami masalah yang sama.

"Banjir kali ini tampaknya lebih besar dibandingkan dengan tahun lalu. Setiap tahun desa kami memang banjir, namun tidak sehebat awal tahun ini," kata Edi yang mengolah sawah seluas 8.000 meter persegi itu seperti dikutip Antara, Minggu (19/1).

Priyadi, petani di Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, juga mengalami kerugian serupa setelah sawahnya yang baru dua pekan lalu ditebari benih terendam banjir.

"Entah kapan saya bisa kembali menebar benih padi karena sampai saat ini belum ada tanda-tanda genangan air menyurut," katanya dalam bahasa Jawa.

Pemantauan di lokasi banjir di Kabupaten Pekalongan dan Batang, Minggu, menunjukkan sebagian besar sawah masih terendam air berwarna cokelat kemerahan.

Topik pilihan: Jalan Rusak | Jalur Pantura

Akibat hujan, jalur Pantura berlubang dan bergelombang

Kondisi jalan pantura sepanjang Pekalongan hingga Semarang saat ini berlubang dan bergelombang akibat digenangi air hujan secara masif. Hal itu juga membuat sejumlah kendaraan berat, seperti truk trailer dan kontainer rusak setelah melintasi jalur tersebut.

Jalur Kota Pekalongan menuju Batang itu, membuat permukaan jalan banyak yang mengelupas dan berlubang dengan kedalaman hingga lebih dari 10 cm. Jalan dari Batang hingga Alas Roban dari dua arah juga mengalami kerusakan serupa sehingga banyak kendaraan berebut mendapatkan permukaan jalan yang relatif masih rata.

Beberapa kali terlihat kendaraan roda empat maupun roda dua terjebak di lubang jalan yang tertutup genangan air tersebut. Pada Minggu siang di sepanjang jalur itu juga terlihat tiga truk mengalami patah roda.

Permukaan jalan arteri Weleri-Kendal dan arteri Kendal-Mangkang yang biasanya mulus, kali ini juga banyak berlubang sehingga mewajibkan setiap pengemudi ekstra hati-hati agar tidak terantuk di jalan berlubang.

Kerusakan serius pada jalan Pekalongan-Semarang sepanjang 109 km tersebut menyebabkan waktu tempuh lebih lama, dari 2,5-3 jam menjadi 3,5 jam.

Topik pilihan: Jalan Rusak | Jalur Pantura

Banjir Pantura, dikabarkan 18 buaya lepas dari kandang

Di tengah musibah banjir yang melanda kawasan Pantura, Kabupaten Subang, Jawa Barat beredar kabar 18 buaya lepas dari kandangnya. Kabar itu berasal dari pesan Blackberry Messenger (BBM) yang entah dari mana asal mulanya.

"Untuk korban banjir khususnya daerah pamanukan. desa dukuh kec Ciasem.belanakan pmanukan. himbauan untuk berhati hati dikarenakan lepasnya 18 ekor buaya d desa belanakan pmnukan sbg yg mmbuat resah pemilik pnangkaran. semoga hal ini dpt mnjdi barometer kewaspadaan korban dan relawan yg berjaga. sharee k yg lain -sumber posko polres subang,team sar,msyrakat pmnkn-,' demikian isi pesan berantai yang diterima merdeka.com, Senin (20/1) siang.

Tentu kabar tersebut membuat geger banyak pihak. Saat dikonfirmasi terkait kabar tersebut, Kapolres Subang AKBP Chiko Ardwiatto, menegaskan kabar itu bohong. "Tidak ada itu, bohong," kata Chiko kepada wartawan, Senin (20/1).

Dia meminta masyarakat untuk tidak percaya begitu saja dengan informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

"Jadi bisa dicek dulu untuk memastikan kebenaran informasinya, ke pihak terkait," tandasnya.

Dihubungi terpisah, Kabid Kedaruratan BPBD Jawa Barat, Budiman mengatakan hal senada. Sejauh ini saat petugas BPBD yang mengecek ke lapangan tidak menemukan adanya buaya yang lepas. "Buayanya ada di penangkaran, tidak lepas, jadi informasi itu bohong," terangnya.

Baca juga:
Terendam banjir 2 hari, banyak jalan berlubang di jalur Pantura
Banjir Pantura, beredar kabar 18 buaya lepas dari penangkaran
Parahnya banjir Pantura, ribuan rumah terendam, macet menggila
Pantura banjir, penumpang bus terjebak macet 35 jam
Banjir parah, Jalur Pantura masih lumpuh

(mdk/ren)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.