3 Pejabat Pemkab Jember Bungkam Usai Diperiksa Kasus Korupsi Pasar Manggisan
Beberapa jam setelah Nurul keluar, giliran Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Sumberdaya Air (DPUBMSDA), Yessyana Arifah, yang keluar dari ruang pemeriksaan di Kejari Jember. Yessy keluar sekitar pukul 15.40 WIB.
Achmad Imam Fauzi bergegas keluar dari dalam ruang pemeriksaan di kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember. Tak seperti biasanya, Fauzi kali ini irit bicara kepada awak media. Dia adalah Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jember.
"Tanya kepada penyidik saja," ujar Fauzi kepada para wartawan yang memberondongnya denga pertanyaa seputar kasus korupsi Pasar Manggisan.
Kasus korupsi ini memang menjadi salah satu fokus Kejari Jember beberapa waktu terakhir. Fauzi menjadi pejabat terakhir yang keluar dari ruang pemeriksaan.
Sejak Selasa (4/2) pagi, penyidik kejaksaan memanggil para pejabat Pemkab Jember untuk diperiksa sebagai saksi dalam kasus yang telah menyeret mantan Kepala Disperindag Jember, Anas Ma'ruf sebagai tersangka dan kini sudah ditahan.
Tiga pejabat Pemkab Jember, sejak pukul 09.00 WIB sudah berada di ruang tunggu kantor Kejari Jember untuk menanti pemeriksaan. Selain Fauzi, juga hadir mantan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember Siti Nurul Qomariah dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Sumberdaya Air (DPUBMSDA), Yessyana Arifah.
©2020 Merdeka.com/muhammad permana
Ketiga orang tersebut masuk ruang pemeriksaan secara hampir bersamaan, namun keluar dalam waktu yang berbeda.
Yang pertama keluar dari ruang pemeriksaan adalah Siti Nurul Qomariah, yakni sekitar pukul 13.00 WIB. Nurul tidak menjawab secara jelas pertanyaan para wartawan terkait pemeriksaan dirinya.
"Saya ke sini cuma jalan-jalan saja kok. (apakah diperiksa jaksa Setyo atau yang lain?) Tidak tahu tadi saya ketemu siapa," ujar Nurul sembari bergegas menghindari para pewarta.
Sebagai catatan, meski kini tidak mempunyai jabatan, Nurul masih tetap tercatat sebagai pegawai aktif di Pemkab Jember. Jabatan resminya adalah staf di Staf Ahli Bidang Pembangunan, Perekonomian dan Keuangan. Saat awal proyek Pasar Manggisan bergulir, Nurul menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Jember. Nurul dicopot dan dinonjobkan 11 April 2019.
Beberapa jam setelah Nurul keluar, giliran Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Sumberdaya Air (DPUBMSDA), Yessyana Arifah, yang keluar dari ruang pemeriksaan di Kejari Jember. Yessy keluar sekitar pukul 15.40 WIB.
Dengan raut muka tegang, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Yessy. Serbuan pertanyaan wartawan terkait kasus korupsi Pasar Manggisan, tidak ada satupun yang digubris.
Salah satu kepala dinas termuda di Pemkab Jember ini, langsung bergegas masuk ke mobil Honda Brio warna putih yang ia kemudikan sendiri.
Barulah terakhir, Achmad Imam Fauzi yang keluar dari ruang pemeriksaan, sekitar pukul 17.00 WIB. Dibanding dua pejabat lainnya, Fauzi adalah birokrat yang paling senior.
Teka-Teki Keterkaitan Nurul
Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Jember, Setyo Adhi Wicaksono enggan merinci seputar pemeriksaan hari ini. Termasuk ketika wartawan bertanya seputar kaitan antara jabatan Kepala Dinas Kesehatan yang diemban Nurul dengan proyek Pasar Manggisan.
"Kami ini penyidik, lo (kamu) putar-putar (pertanyaannya) gimana, tetap saja, saya hanya bisa memberi informasi bahwa ketiga orang tersebut, termasuk pengembangan dari pihak-pihak yang mengetahui proyek Pasar Manggisan," ujar Setyo sembari tersenyum.
Mantan Kasi Intel Kejari Tangsel ini hanya memastikan, ketiga saksi tersebut dipanggil untuk dimintai keterangan, karena dengan jabatannya, dianggap mengetahui proyek Pasar Manggisan.
"Itu subtansi. (tetapi intinya) Terkait (kasus) Pasar Manggisan, ada beberapa pihak yang kami panggil, karena mengetahui kasus ini," tegas Setyo.
Pemeriksaan Nurul memang menimbulkan tanda tanya di kalangan jurnalis. Pasalnya, jabatan Nurul sebelumnya sebagai Kepala Dinas Kesehatan, relatif tidak bersinggungan dengan proyek revitalisasi 12 pasar yang digagas Pemkab Jember pada tahun 2018 lalu.
Hal ini berbeda dengan Bappeda yang menjadi salah satu jantung perencanaan pembangunan maupun Dinas Pekerjaan Umum yang beririsan dengan proyek fisik.
Perjalanan karir Nurul memang naik turun dengan cukup drastis. Sekitar September 2017, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini lolos seleksi lelang jabatan untuk menjadi Kepala Dinkes di dua daerah sekaligus. Yakni Jember dan Kota Batu. Namun Nurul yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Probolinggo itu memilih Jember sebagai tempat melanjutkan karir.
Namun, pada 11 April 2019, karir Nurul tiba-tiba meredup. Ia dicopot dari jabatannya dan di non-jobkan hingga saat ini. Terdapat beberapa hal yang dianggap bupati sebagai kesalahan Nurul. Yakni keterlambatan pembayaran proyek perbaikan puskesmas dengan nilai total Rp60 miliar. Semasa menjabat sebagai Kadinkes Jember, Nurul juga dituding melakukan pemotongan anggaran perjalanan Dinas.
(mdk/rnd)