3 Hari hilang, Pincuk ditemukan tewas membusuk
Saat ditemukan, kondisi korban telanjang bulat dalam polisi terlentang di pos kamling.
Setelah tiga hari menghilang, Cahyono alias Pincuk (68) warga Wotgandul, Semarang, yang bekerja sehari-hari sebagai juru parkir, Senin(25/6) ditemukan tewas membusuk di pos kamling, Jalan Kenanga Raya Brumbungan Semarang Tengah, Jateng.
Saat ditemukan, kondisi korban telanjang bulat dalam polisi terlentang di pos kamling. Tubuhnya sudah melembung dan menimbulkan bau tak sedap dan sangat menyengat. Diduga, korban telah tewas sejak tiga hari yang lalu.
Sudiman (42) tukang becak asal Bojonegoro, Jawa Timur, adalah yang menemukan korban pertama kali sekitar pukul 08.45 WIB. Saat itu, Sudiman sedang mangkal tidak jauh dari pos kamling. Dirinya curiga setelah mencium bau menyengat. Awalnya, mengira ada bangkai tikus mati di sekitar dirinya mangkal.
“Awalnya saya mengira ada bangkai tikus mati, tapi setelah saya cari-cari, ternyata bau itu dari pos kamling,” ujar Sudiman.
Penasaran, Sudiman akhirnya mengecek ke pos kamling. Saat mengintip dari jendela pos ternyata didapati mayat korban Pincuk dalam kondisi tewas membusuk. Sudiman langsung melaporkan ke Ketua RT 06 RW 04, Lim Tiong Kiat (60) dan diteruskan ke polisi.
Mendapatkan laporan, polisi yang dipimpin Kanit Reskrim AKP Rudi Mantolulu bersama anggota SPK Mapolsekta Semarang Tengah tiba di lokasi kejadian langsung melakukan olah TKP.
Untuk mengetahui kronologi, polisi memintai keterangan beberapa saksi. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata korban diketahui Cahyono, seorang juru parkir yang ada di Jalan Kenanga. Dari hasil penyelidikan sementara, polisi tidak menemukan tanda-tanda penganiayaan, diduga korban tewas akibat sakit.
Beberapa warga yang mengenal korban langsung menghubungi keluarganya. Pihak keluarga kepada polisi mengatakan, korban sudah menghilang selama tiga hari dan keluarga sudah melakukan pencarian.
Keluarga sudah meminta kepada Pincuk untuk tinggal di rumah saja. Namun, korban Pincuk menolak dan ingin hidup sendiri. Meski demikian, keluarga tetap memantau keberadaanya.
“Orangnya susah diatur dan kami sudah disuruh tinggal di rumah saja, tapi menolak,” ungkap Sobek (39) tetangga korban.(mdk/ren)