22 Jam di jalan berlubang dan berdebu di pedalaman Borneo
Mual sampai muntah bukanlah satu hal yang memalukan. Maka tak heran jika di mobil disediakan kantong-kantong kresek.
Jika dibayangkan sudah pasti perjalanan melintasi pedalaman Kalimantan Barat sangat melelahkan. Bagaimana tidak, berada satu provinsi jarak antar-kabupaten harus ditempuh berjam-jam.
Dari Pontianak menuju Kabupaten Kubu Raya, kondisi jalan masih terbilang bagus, tak terlalu banyak jalan rusak. Masih bisa lah sedikit memejamkan mati, sambil mendengarkan alunan musik di mobil. Itulah yang dirasakan merdeka.com saat melintasi pedalaman Kalimantan akhir Mei lalu.
Selanjutnya, kondisi benar-benar berubah saat menuju Kabupaten Sanggau. Hancurnya jalan mulai terasa di Kecamatan Tayan Hulu dan Tayan Hilir. Ada beberapa titik seperti kubangan kerbau. Sungguh ironis.
Mobil-mobil yang melintas mulai 'berjoget' ke kanan dan kiri untuk menghindari lubang-lubang maut. Mual sampai muntah bukanlah satu hal yang memalukan. Maka tak heran jika di taksi (mobil sewaan) disediakan kantong-kantong kresek.
Sudah selesai, belum. Masih ada jalan berdebu karena bekas longsor, jalan naik-turun, dan berkelok-kelok. Mobil juga harus lebih berhati-hati karena dari arah berlawanan banyak truk melintas.
Setelah Sanggau, menuju Kabupaten Sekadau kondisi membaik. Kendaraan kembali bisa dipacu, namun tetap harus waspada karena ruas jalan hanya cukup dilalui dua mobil. Hutan, kebun kelapa sawit menjadi pemandangan di sisi kiri dan kanan.
Selepas Sekadau mengarah ke Kabupaten Sintang, tetap ada jalan rusak tetapi tidak terlalu parah. 'Ujian' kembali dirasa saat menuju Kabupaten Kapuas Hulu, Kecamatan Putussibau.
Laju kendaraan mulai mengalami hambatan saat masuk di Desa Parang. Sepanjang kurang lebih 70 kilometer, jalan benar-benar rusak. Banting setir ke kanan, kiri, harus dilakukan untuk menghindari lubang dan bebatuan.
Setelah melewati Simpang Sejiram, jalan sedikit membaik. Jarak tempuh darat dari Pontianak ke Pustussibau (ibukota Kapuas Hulu) sekitar 780 kilometer atau menghabiskan waktu sekitar 17 jam. Pinggang benar-benar terasa encok.
Dari Putussibau menuju Badau yang jauhnya 179 kilometer ditempuh 5 sampai 6 jam. Jarak itu seperti Jakarta-Bandung, kemudian kembali lagi. Padahal hanya antar-kecamatan. Sungguh melelahkan.
Ternyata kondisi jalan menuju Badau tak lebih baik ketika menuju Putussibau. Sepanjang perjalanan, mobil harus melewati beberapa kali jembatan yang terbuat dari kayu. Lampu penerang jalan pun sangat minim.
Ujian pertama tiba saat melewati jembatan di desa Tamau. Rupanya jembatan itu sempat rusak karena dilintasi kendaraan berat. Hanya berjarak 5 kilometer, rintangan ternyata semakin berat. Kali ini, mobil 'dipaksa' melewati jembatan sepanjang sekitar 40 meter yang kayu-kayunya sudah jebol.
Perlahan, roda mobil diletakkan di atas kayu. Ini benar-benar harus hati-hati, karena kayu cuma bisa menyanggah ban kiri dan kanan mobil. Sedikit saja tergelincir, mobil akan nyemplung ke sungai.
Akhirnya, tiba juga di Badau, kecamatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Penuh perjuangan, menghabiskan waktu 22 jam dengan jarak tempuh sejauh 959 kilometer.
Inilah Indonesia ku. Meski melelahkan, namun sungguh memberi nuansa keindahan.(mdk/did)