2 Desa di Boyolali yang perang gara-gara helm kembali memanas
Ratusan Brimob dibantu personel TNI mulai hari ini disiagakan untuk mengamankan Dusun Kali Telawah.
Bentrokan massa yang terjadi di Kecamatan Juwangi, Boyolali, Jawa Tengah hingga Selasa (20/5) sore belum sepenuhnya berakhir. Meskipun kedua kubu sepakat damai, namun suasana masih cukup memanas.
Meskipun siang hari, situasi di Dukuh Kali Telawah, Desa Ngaren (lokasi meninggalnya korban), masih tampak lengang. Hingga saat ini tak ada warga yang berani pulang ke rumah menyusul kerusuhan dan pengrusakan desa mereka pada Minggu (18/5) dini hari. Mereka masih mengungsi di Desa lain, demi keamanan keluarga.
Informasi yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, situasi semakin memanas, lantaran beredar kabar akan ada serangan dari kelompok salah satu perguruan bela diri. Ratusan aparat kepolisian dari satuan Brimob dibantu personel TNI mulai hari ini disiagakan untuk mengamankan Dusun Kali Telawah.
Ratusan aparat keamanan tersebut didatangkan tak hanya dari Boyolali, namun juga dari Salatiga dan Solo. Mereka dibekali senjata lengkap, seperti gas air mata dan senjata laras panjang. Di lokasi kejadian, mereka ditempatkan di rumah-rumah warga, terutama di sepanjang jalan alternatif Boyolali–Purwodadi.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku tak berani pulang karena masih trauma dengan penyerangan dan pengrusakan di kampungnya. "Saya masih mengungsi di rumah saudara, takut mas mau pulang. Jadi nggak bisa kerja. Anak-anak saya juga nggak bisa sekolah," keluhnya.
Salimin, tokoh desa setempat mengatakan, munculnya ancaman dari kelompok tertentu tersebut karena pelaku pemicu kerusuhan hingga kini belum tertangkap. Pihaknya berharap agar aparat kepolisian dan muspika bisa segera menuntaskan kasus tersebut.
"Kami ingin ketenangan, aparat harus bisa secepatnya menyelesaikan kasus ini. Kasihan warga yang tidak bersalah, nggak bisa pulang," katanya.
Sebelumnya, bentrokan yang melibatkan massa terjadi di Kecamatan Juwangi, Boyolali Jawa Tengah, Minggu (18/5) malam. Perkelahian yang juga melibatkan ratusan warga sekitar Boyolali tersebut merupakan kelanjutan keributan sebelumnya, yang menewaskan Agus Sriyanto (23), warga Desa Kalimati. Keluarga korban yang tak terima kejadian tersebut, melakukan aksi balas dendam dengan membawa ratusan massa ke Desa Ngaren, lokasi meninggalnya Agus. Tawuran yang berakhir dengan kematian tersebut hanya dipicu oleh peminjaman helm.
Meskipun suasana sempat mencekam dalam beberapa hari ini, namun kedua kubu yang sudah berhadap-hadapan berhasil dihalau oleh aparat kepolisian. Berkat upaya yang dilakukan oleh polisi, muspika dan aparat kedua desa, perkelahian yang lebih luas tak terjadi. Kedua kubu sepakat untuk damai dan mengakhiri perselisihan.
Kapolres Boyolali AKBP Budi Haryanto saat dihubungi merdeka.com menegaskan, kondisi saat ini sudah kondusif. Kedua kubu sudah sepakat untuk berdamai. "Kondisi di Juwangi sudah aman dan kondusif. Tidak ada masalah lagi," ujar Budi, Minggu (18/5).
(mdk/ded)