2 ABG di Polewali Mandar Dijual IRT ke Pria Hidung Belang, Tarif Rp200-300 Ribu
Pengungkapan kasus dugaan perdagangan orang itu berawal dari laporan masyarakat yang menyebutkan adanya dua anak di bawah umur, yakni N (17) dan F (15) yang telah dieksploitasi secara ekonomi/seksual oleh terduga pelaku.
Seorang ibu rumah tangga berinisial C (22), ditangkap terkait kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) atau human trafficking terhadap dua anak yang masih di bawah umur. Pelaku merupakan warga Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar.
"Kami telah menangkap seorang ibu rumah tangga berinisial C yang diduga melakukan tindak pidana memperdagangkan anak atau menjual atau mengeksploitasi ekonomi/seksual anak di bawah umur," kata Kasat Reskrim Polres Polewali Mandar Iptu Agung Setyo Negoro, kepada wartawan, Jumat (29/10).
Pengungkapan kasus dugaan perdagangan orang itu berawal dari laporan masyarakat yang menyebutkan adanya dua anak di bawah umur, yakni N (17) dan F (15) yang telah dieksploitasi secara ekonomi/seksual oleh terduga pelaku.
Dari laporan itu petugas dari Unit PPA dan Tim Resmob Satuan Reskrim Polres Polewali Mandar langsung melakukan penyelidikan untuk mengetahui kebenaran informasi tersebut.
"Dari hasil penyelidikan itulah kemudian dilakukan penangkapan terhadap C di wilayah Kelurahan Pappang, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar," kata Setyo.
Kepada polisi, IRT terduga pelaku TPPO itu mengakui perbuatannya melakukan eksploitasi ekonomi/seksual terhadap kedua anak di bawah umur tersebut.
Terduga pelaku mengaku berkenalan dengan kedua korban melalui teman-teman pelaku kemudian mengajak korban untuk bekerja melayani pria hidung belang.
Setelah korban mengiyakan, terduga pelaku kemudian mengajak kedua korban tinggal di rumahnya. Selanjutnya, C menghubungi seorang pria melalui telepon genggam untuk menawarkan jasa layanan dari kedua korban dengan tarif Rp200 hingga Rp300 ribu.
"Jadi, pelaku memperdagangkan anak atau menjual atau mengeksploitasi ekonomi/seksual anak dengan kesepakatan tarif yang telah ditentukan Rp200 ribu hingga Rp300 ribu," ujar dia.
"Dari hasil tarif tersebut kedua korban anak melayani laki-laki atau pelanggan, pelaku mendapatkan keuntungan atau bagian dari tarif tersebut dan sebagian diberikan kepada kedua korban," tukasnya.
Terduga pelaku perdagangan terhadap anak di bawah umur itu telah ditetapkan tersangka dengan dijerat Pasal 83 Jo. Pasal 76F subsider Pasal 88 Jo. Pasal 76I Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukum 10 tahun penjara.
"Terduga pelaku mengaku telah memperdagangkan atau menjual atau mengeksploitasi ekonomi/seksual kedua anak tersebut sebanyak lima kali pada masing-masing anak di wilayah Kecamatan Campalagian dan Kecamatan Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar," tandasnya. Dikutip Antara.
Baca juga:
Muncikari di Karaoke Venesia BSD Tetap Dihukum 8 Bulan Bui, Kejari Tangsel Kasasi
Bareskrim Tangkap 10 DPO Kasus Trafficking hingga Penipuan Rp208 Miliar
Polda Kalbar Gagalkan Upaya Perdagangan Orang ke Malaysia
Temui Menko Polhukam, Kepala BP2MI Bahas Maraknya Kejahatan Perdagangan Manusia
Terdakwa TPPO Venesia Karaoke BSD Dihukum Ringan, JPU Banding
Kasus Perdagangan Anak di Tegal, ABG Dijadikan Pemandu Karaoke Hingga Layani Kencan