130 Warga Brebes keracunan nasi ponggol dari calon kades
Keracunan ini membuat ratusan warga sejak kemarin hingga saat ini masih harus menjalani perawatan di Puskesmas.
Seratusan warga Desa Karangmalang, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah mengalami keracunan yang diduga berasal dari nasi bungkus. Nasi bungkus yang sering orang Brebes sebut nasi ponggol itu dibagi-bagikan oleh salah seorang calon Kepala Desa (Kades) saat warga meramaikan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) setempat pada Rabu (13/2).
Informasi yang dihimpun merdeka.com, keracunan ini membuat ratusan warga sejak Rabu (13/2) hingga sampai saat ini masih harus menjalani perawatan di Puskesmas Kecamatan Ketanggungan. Bahkan korban keracunan ini jumlahnya mencapai 130 lebih.
Ismail(40) salah satu warga RT 04/RW I Desa Karangmalang yang ikut menjadi korban keracunan menceritakan keracunan berawal Rabu (13/2)pagi sebanyak 100 bungkus nasi ponggol dibagikan. Ada yang disimpan dan ada yang langsung dimakan oleh beberapa warga yang akan melangsungkan Pilkades di balai desa setempat.
"Sebagian besar kami makan begitu dibagikan pukul 06.00 WIB kemarin pagi. Namun, sekitar pukul 22.00 WIB malam tadi banyak warga yang mulai mengeluh sakit perut, pusing bahkan ada yang muntah dan berak berulang kali," ungkap Ismail.
Untuk mencegah bahaya yang lebih parah, sejumlah warga kemudian dilarikan oleh panitia Pilkades dan Tim SAR Brebes ke Puskesmas Karangmalang. Bahkan, lanjut Ismail, pada Kamis (14/2) pagi ini, terpaksa ada delapan orang yang masih menjalani perawatan di PKU Muhammadiyah Ketanggungan, dan dua orang menjalani rawat inap di Puskesmas Kecamatan Ketanggungan.
Petugas medis Puskesmas Kecamatan Ketanggungan, dokter Susani Ali saat dikonfirmasi merdeka.com melalui telepon menyatakan gejala yang dialami warga identik dengan keracunan makanan.
"Namun untuk memastikan jenis racun ataupun penyebabnya, diperlukan penelitian sisa makanan. Sehingga harus dicek dan diteliti di laboratorium," jelasnya.
Keracunan seperti ini, menurut Susani harus segera ditangani, karena jika terlambat akan dapat mengakibatkan kekurangan cairan tubuh atau dehidrasi akut. "Pertolongan pada korban harus secepatnya dilakukan guna mencegah efek yang lebih buruk," ujarnya.
Susani menambahkan, untuk mengatasi masalah ini pihaknya telah memberikan pengobatan secara massal, yaitu pemberian obat pusing, mual serta anti muntah. Selain upaya pencegahan secara tradisional memberikan air kelapa muda. Sebagai upaya menetralisir kandungan toksin atau racun dalam makanan yang telah dikonsumsi.(mdk/hhw)