Yuk kenali tema 'organic' dan sosial pada cerita fiksi
Sebuah cerita bisa menarik karena banyak faktor. BIsa juga karena temanya.
Sebuah cerita bisa menarik karena banyak faktor. Bisa jadi karena penokohannya yang kuat, penggambaran setting yang baik, dialog yang kokoh, dan masih banyak lagi. Namun sebuah cerita akan jadi sangat menarik kalau tema yang dipilih oleh sang penulis didukung oleh semua faktor intrinsik dan ekstrinsik yang ada.
Dalam pengertian sederhana, tema adalah makna cerita, gagasan sentral, atau dasar cerita. Wujud tema dalam karya sastra, biasanya, bersumber atau dikembangkan dari alasan tindak atau motif tokoh. Dalam sebuah karya sastra biasanya ada 1 tema yang sangat menonjol, baru kemudian dilengkapi dengan unsur-unsur lainnya. Tema dalam karya sastra umumnya diklasifikasikan menjadi lima jenis, yakni tema physical 'jasmaniah', tema organic 'moral', social 'sosial', egoic 'egoik', dan divine 'ketuhanan'.
Kali ini kita bakal bahas 2 di antara 5 tema itu, yaitu tema organik dan sosial. Yuk simak penjelasannya di bawah ini.
Tema organic diartikan sebagai tema tentang ‘moral’ karena kelompok tema ini mencakup hal-hal yang berhubungan dengan moral yang dimiliki oleh manusia, yang wujudnya tentang hubungan antarmanusia, antar pria-wanita. Cerita-cerita yang bisa masuk dalam kategori ini misalnya adalah tentang hubungan ibu dan anak, hubungan persahabatan, konflik antar tetangga, dan masih banyak lagi.
Tema sosial meliputi hal-hal yang berada di luar masalah pribadi, misalnya masalah politik, pendidikan, dan propaganda. Cerpen-cerpen ironi yang menyindir pemerintah atau partai politik biasanya masuk di dalam tema ini. Begitu pula dengan tema-tema pendidikan yang menyoroti orang yang tertinggal pendidikannya, dan masih banyak lagi.
Menulis cerita fiksi sebaiknya didekatkan dengan pengalaman hidup pribadi seorang penulis. Kalau kamu, lebih memilih tema organik atau sosial?(mdk/iwe)